Kamis, 13 Oktober 2011

PENDIDIKAN BUDAYA DAN KARAKTER BANGSA


MODEL BAHAN AJAR INTERNALISASI NILAI-NILAI PENDIDIKAN BUDAYA DAN
KARAKTER BANGSA MENGGUNAKAN PENDEKATAN BELAJAR AKTIF MELALUI
MATA PELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA UNTUK SEKOLAH DASAR

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PUSAT KURIKULUM
2010
Kerangka Bahan Ajar Budaya Karakter Bangsa dan Kewirausahaan Melalui Kelompok Mata Pelajaran Jasmani, Olahraga dan Kesehatan Menggunakan Pendekatan Belajar Aktif SD/MI


B A B I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.
Pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup, pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan yang diajarkan di sekolah memiliki peranan sangat penting, yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan yang terpilih yang dilakukan secara sistematis.
Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik, sekaligus membentuk pola hidup sehat dan bugar sepanjang hayat.
Pendidikan memiliki sasaran pedagogis, oleh karena itu pendidikan kurang lengkap tanpa adanya pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, karena gerak sebagai aktivitas jasmani adalah dasar bagi manusia untuk mengenal dunia dan dirinya sendiri yang secara alami berkembang searah dengan perkembangan zaman. Selama ini telah terjadi kecenderungan dalam memberikan makna mutu pendidikan yang hanya dikaitkan dengan aspek kemampuan kognitif. 
Pandangan ini telah membawa akibat terabaikannya aspek-aspek moral, akhlak, budi pekerti, seni, psikomotor, serta life skill. Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan merupakan media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-emosional-sportivitas-spiritualsosial), serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan merupakan komponen penting dalam sistem pendidikan, untuk itu dilakukan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan, dari Taman Kanak-Kanak hingga ke Perguran Tinggi, memungkinkan anak-anak untuk mengembangkan gaya hidup sehat sedini mungkin. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan juga merupakan suatu wadah di mana peserta didik dapat mengembangkan keterampilan interpersonal, keterampilan sosial, dinamika tim dan keterampilan psikomotorik. Pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional. Pendidikan jasmani memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, mahluk total, daripada hanya menganggapnya sebagai seseorang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya.
Pada kenyataannya, pendidikan jasmani adalah suatu bidang kajian yang sungguh luas. Titik perhatiannya adalah peningkatan gerak manusia. Lebih khusus lagi, pendidikan jasmani berkaitan dengan hubungan antara gerak manusia dan wilayah pendidikan lainnya: hubungan dari perkembangan tubuh-fisik dengan pikiran dan
jiwanya. Fokusnya pada pengaruh perkembangan fisik terhadap wilayah pertumbuhan dan perkembangan aspek lain dari manusia itulah yang menjadikannya unik. Tidak ada bidang tunggal lainnya seperti pendidikan jasmani yang berkepentingan dengan perkembangan total manusia. Dari pendidikan jasmani diartikan dengan berbagai ungkapan dan kalimat. Namun esensinya sama, yang jika disimpulkan bermakna jelas, bahwa pendidikan jasmani memanfaatkan alat fisik untuk mengembangan keutuhan manusia. Dalam kaitan ini diartikan bahwa melalui fisik, aspek mental dan emosional pun turut terkembangkan, bahkan dengan penekanan yang cukup dalam. Berbeda dengan bidang lain, misalnya pendidikan moral, yang penekanannya benar-benar pada perkembangan moral, tetapi aspek fisik tidak turut terkembangkan, baik langsung maupun secara tidak langsung. Karena hasil-hasil kependidikan dari pendidikan jasmani tidak hanya terbatas pada manfaat penyempurnaan fisik atau tubuh semata, definisi pendikan jasmani tidak hanya menunjuk pada pengertian tradisional dari aktivitas fisik. Kita harus melihat istilah pendidikan jasmani pada bidang yang lebih luas dan lebih abstrak, sebagai satu proses pembentukan kualitas pikiran dan juga tubuh.
Karenanya pendidikan jasmani ini harus menyebabkan perbaikan dalam ”pikiran dan tubuh” yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan harian seseorang. Pendekatan holistik tubuh-jiwa ini termasuk pula penekanan pada ketiga domain kependidikan: psikomotor, kognitif, dan afektif. Dengan meminjam ungkapan Robert Gensemer, pendidikan jasmani diistilahkan sebagai proses menciptakan “tubuh yang baik bagi tempat pikiran atau jiwa.” Artinya, dalam tubuh yang baik ‘diharapkan’ pula terdapat jiwa yang sehat1, sejalan dengan pepatah Romawi Kuno: Men sana in corporesano.
Ruang Lingkup Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah.
1. Permainan dan olahraga meliputi: olahraga tradisional, permainan. eksplorasi gerak, keterampilan lokomotor non-lokomotor,dan manipulatif, atletik, kasti, rounders, kippers, sepak bola, bola basket, bola voli, tenis meja, tenis lapangan, bulu tangkis, dan beladiri, serta aktivitas lainnya
2. Aktivitas pengembangan meliputi: mekanika sikap tubuh, komponen kebugaran jasmani, dan bentuk postur tubuh serta aktivitas lainnya
3. Aktivitas senam meliputi: ketangkasan sederhana, ketangkasan tanpa alat, ketangkasan dengan alat, dan senam lantai, serta aktivitas lainnya
4. Aktivitas ritmik meliputi: gerak bebas, senam pagi, SKJ, dan senam aerobic serta aktivitas lainnya
5. Aktivitas air meliputi: permainan di air, keselamatan air, keterampilan bergerak di air, dan renang serta aktivitas lainnya
6. Pendidikan luar kelas, meliputi: piknik/karyawisata, pengenalan lingkungan, berkemah, menjelajah, dan mendaki gunung
7. Kesehatan, meliputi penanaman budaya hidup sehat dalam kehidupan seharihari, khususnya yang terkait dengan perawatan tubuh agar tetap sehat, merawat lingkungan yang sehat, memilih makanan dan minuman yang sehat, mencegah dan merawat cidera, mengatur waktu istirahat yang tepat dan berperan aktif dalam kegiatan P3K dan UKS. Aspek kesehatan merupakan aspek tersendiri, dan secara implisit masuk ke dalam semua aspek.
Melalui Pendidikan jasmani, Olahraga dan Kesehatan disamping membina keterampilan hidup aktif dan sehat, juga bertujuan untuk mempromosikanpembangunan tim dan bekerja sebagai anggota tim. Permainan seperti sepak bola, bola basket dan badminton di mana penggunaan tim adalah harus bertujuan untuk membantu peserta didik membangun hubungan baik dengan rekan-rekan mereka dan juga menunjukkan bagaimana mereka bisa menang - atau setidaknya bermain terbaik mereka - sementara bekerja sebagai satu unit. Melalui mata pelajaran Pendidikan Jasmani, olahraga dan kesehatan peserta didik tidak hanya meningkatkan keterampilan interpersonal dengan orang-orang di sekitar mereka, tetapi juga meningkatkan motivasi dan kebanggaan dalam apa yang mereka lakukan. Hal ini terlihat jelas dalam peristiwa ketika salah satu tim keluar sebagai menang, tim lain untuk mencapai sukses - sukses yang hanya mungkin melalui kerja tim dan memperoleh kepercayaan dengan orang lain. Demikian juga menanamkan rasa percaya diri dan rasa bangga pada peserta didik dalam kegaitan belajar mengajar Pendidikan Jasmani, olahraga dan kesehatan
sebagai sarana untuk membangun karakter. Sistem pembelajaran saat ini dipandang belum secara efektif membangun peserta didik memiliki akhlak mulia dan karakter bangsa. Hal ini ditunjukkan dengan terjadinya degradasi moral seperti penyalahgunaan narkoba, radikalisme pelajar, pornografi dan pornoaksi, plagiarisme, dan menurunnya nilai kebanggaan berbangsa dan bernegara. Kebijakan untuk menanggulangi masalah ini antara lain sebagai berikut:
a. Menanamkan pendidikan moral yang mengintegrasikan muatan agama, budi pekerti, kebanggaan warga negara, peduli kebersihan, peduli lingkungan, dan peduli ketertiban dalam penyelenggaraan pendidikan
b. Mengembangkan kurikulum pendidikan yang memberikan muatan soft skills yang meningkatkan akhlak mulia dan menumbuhkan karakter berbangsa dan bernegara
c. Menumbuhkan budaya peduli kebersihan, peduli lingkungan, dan peduli ketertiban melalui pembelajaran aktif di lapangan
d. Penilaian prestasi keteladanan peserta didik yang mempertimbangkan aspek akhlak mulia dan karakter berbangsa dan bernegara.
Proses pengembangan nilai-nilai yang menjadi landasan dari karakter tersebut menghendaki suatu proses yang berkelanjutan (never ending process), dilakukan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum (pendidikan kewarganegaraan, sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, bahasa Indonesia, IPS, IPA, matematika, agama, pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan, seni, serta ketrampilan). Dalam mengembangkan pendidikan karakter bangsa kesadaran akan siapa dirinya dan bangsanya adalah bagian yang teramat penting.
Pendidikan budaya dan karakter bangsa dilakukan melalui pendidikan nilai-nilai atau kebajikan (virtue) yang menjadi nilai dasar budaya dan karakter bangsa.
Kebajikan yang menjadi atribut suatu karakter pada dasarnya adalah nilai. Oleh karena itu pendidikan budaya dan karakter bangsa pada dasarnya adalah pengembangan nilai-nilai yang berasal dari pandangan hidup/ideologi bangsa Indonesia, agama, budaya, dan nilai-nilai yang terumuskan dalam tujuan
pendidikan nasional.
Pendidikan budaya dan karakter bangsa berfungsi sebagai:
1. wahana pengembangan, yakni: pengembangan potensi peserta didik untuk menjadi berperilaku yang baik bagi peserta didik yang telah memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan budaya dan karakter bangsa;
2. wahana perbaikan, yakni: memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk lebih bertanggungjawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat; dan
3. wahana penyaring, yakni: untuk menyaring budaya-budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa.

B. Tujuan Penyusunan Model Bahan Ajar
Secara umum model bahan ajar budaya internalisasi nilai-nilai karakter melalui mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan menggunakan pendekatan belajar aktif ini bertujuan memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru yang mengajar mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, agar mereka dapat bekerja dan melaksanakan proses pembelajaran secara profesional sesuai dengan tuntutan kurikulum. Secara khusus tujuan buku panduan ini bertujuan:
1. Memberi informasi kepada guru tentang arti penting pengembangan nilai-nilai karakter untuk peserta didik.
2. Memberi informasi kepada guru tentang cara pengintegrasian nilai-nilai karakter dalam mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan keseahatan.
3. Menjelaskan tentang berbagai teori yang berkaitan dengan pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan.
4. Memberikan penyadaran kepada guru bahwa berbagai pendekatan dan metode dapat digunakan dalam membelajarkan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan.
5. Memberi kesempatan kepada guru untuk memilih sendiri kegiatan pembelajaran yang dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
6. Membantu guru mengembangkan aktivitas pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan untuk mencapai kompetensi dasar sebagaimana tertuang di dalam Standar Isi mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan yang dapat dijabarkan dalam bahan ajar.

C. Ruang Lingkup Bahan Ajar
Seluruh uraian di dalam panduan penyusunan bahan ajar ini mencakup Bab. I Pendahuluan yang berisi latar belakang, tujuan, ruang lingkup, dan sasaran pengguna buku panduan, Bab. II Pendidikan Budaya Karakter Bangsa Dan Kerangka Konsep Pendidikan Jasmani, Olaraga Dan Kesehatan, memuat: latar belakang pendidikan budaya dan karakter bangsa, karkteristik perkembangan peserta didik Sekolah Dasar, konsep pendidikan jasmani dan olahraga, tahapan belajar gerak, gaya mengajar pendidikan jasmani dan olahragah, penilaian pendidikan jasmani dan olahraga, Bab. III Pengintegrasian Nilai-Nilai Budaya Karakter Bangsa Ke Dalam Pendidikan Jasmani, Olaraga Dan Kesehatan, memuat: nilai karakter, penyusunan perencanaan pembelajaran, contoh silabus dan contoh rencana pelaksanaan dan Bab. IV Pengembangan Bahan Ajar Pendidikan Jasmani, Olaraga Dan Kesehatan, memuat: pengertian bahan ajar, prinsip pemilihan bahan ajar, langkah-langkah pemilihan bahan ajar, ciri-ciri bahan ajar yang baik, kelayakan penyajian, kelengkapan penyajian, dan kerangka penyusunan bahan ajar pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan.
.
D. Sasaran Pengguna Buku Panduan
Panduan ini terutama diperuntukkan bagi guru sekolah dasar yang mengajar mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan baik itu guru kelas maupun guru mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Selain itu, panduan ini juga dapat digunakan oleh kepala sekolah dan pengawas dalam rangka pembinaan kepada guru di dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas.

B A B II
PENDIDIKAN BUDAYA KARAKTER
DAN KERANGKA KONSEP PENDIDIKAN JASMANI, OLARAGA DAN
KESEHATAN
A. SISTEM NILAI KARAKTER
Persoalan karakter kini menjadi sorotan tajam masyarakat. Sorotan itu berfokus pada berbagai aspek kehidupan dan dikemukakan dalam berbagai media seperti koran, media elektronik. Tulisan-tulisan dan wawancara mengenai persoalan karakter mengemuka. Selain di media massa para pemuka masyarakat, para ahli, dan para pengamat pun berbicara mengenai permasalahan karakter di berbagai forum seminar pada tingkat lokal, nasional, dan bahkan internasional. 
Permasalahan yang muncul di masyarakat seperti korupsi, kekerasan, kejahatan seksual dan sebagainya menjadi topik pembahasan di media massa dan seminar tersebut. Berbagai alternatif penyelesaian diajukan seperti berbagai perturaan dan hukum, pelaksanaan dan penerapan hukum yang lebih kuat, dan sebagainya.
Salah satu alternatif untuk mengatasi atau paling tidak mengurangi masalah pengembangan karakter dan pembentukan karakter adalah pendidikan. Sesuai dengan konsep dan fungsinya pendidikan merupakan wahana psiko-sosial yang bersifat preventif. Sebagai wahana yang bersifat preventif, pendidikan diharapkan
dapat mengembangkan kualitas generasi muda bangsa dalam berbagai aspek yang berkenaan dengan masalah karakter. Hal ini memang merupakan usaha pengembangan yang baru terlihat dampaknya dalam waktu yang tidak segera tetapi memiliki daya tahan yang lebih kuat.
Kurikulum yang merupakan “the heart of education,” sudah harus memberikan perhatiannya yang lebih besar terhadap pendidikan karakter dibandingkan masa sebelumnya. Pendapat yang dikemukakan para pemuka masyarakat, ahli pendidikan, para pemerhati pendidikan dan anggota masyarakat lainnya yang dikemukakan di media massa dan Sarasehan Nasional tahun 2010 sudah menggambarkan kuatnya kebutuhan masyarakat akan pendidikan karakter. Apalagi jika dikaji bahwa apa yang dikemukakan masyarakat sebagai kebutuhan
mengenai pendidikan karakter secara imperative merupakan rumusan kualitas manusia Indonesia terkandung dalam Tujuan Pendidikan Nasional. Kepedulian masyarakat mengenai pendidikan karakter telah juga menjadi kepedulian pemerintah. Berbagai upaya pengembangan pendidikan karakter telah dikembangkan di berbagai direktorat dan bagian di berbagai lembaga pemerintah terutama di berbagai unit Kementerian Pendidikan Nasional. Upaya pengembangan itu berkenaan dengan berbagai jenjang dan jalur pendidikan walaupun sifatnya belum menyeluruh. Keinginan masyarakat dan kepedulian pemerintah mengenai pendidikan karakter akhirnya berakumulasi pada kebijakan pemerintah mengenai pendidikan karakter dan menjadi salah satu program unggulan paling tidak untuk masa 5 (lima) tahun mendatang.
Pedoman guru ini dirancang dalam rangka menterjemahkan kebijakan pemerintah dalam pendidikan karakter.
1. Pengertian Pendidikan Karakter
Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU. Sisdiknas) merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus digunakan dalam mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Pasal 3 UU Sisdiknas menyebutkan “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab”. Tujuan pendidikan nasional tersebut merupakan rumusan mengenai kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan. Oleh karena itu rumusan tujuan pendidikan nasional menjadi dasar dalam pengembangan pendidikan karakter. Sistem berpikir, nilai, moral, norma dan keyakinan itu digunakan dalam kehidupan manusia dan menghasilkan sistem sosial, sistem ekonomi, sistem kepercayaan, sistem pengetahuan, sistem peralatan atau teknologi, serta seni. Kehidupan manusia terus berkembang yang disebabkan oleh perkembangan sistem sosial, sistem ekonomi, sistem kepercayaan, ilmu, teknologi dan seni yang diakibatkan oleh perkembangan dalam berpikir, nilai, moral, norma dan keyakinan. Manusia sebagai mahluk sosial menjadi penghasil dari sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan tersebut tetapi juga dalam interaksi dengan sesama manusia dan alam diatur oleh sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan terebut. Pendidikan merupakan proses terencana dalam mengembangkan potensi anak didik untuk memiliki sistem berpikir, nilai, moral, dan keyakinan yang sudah ada dan mengembangkannya ke arah yang sesuai untuk kehidupan masa kini dan masa mendatang. Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau juga kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakininya dan mendasari cara pandang, berpikir, sikap, dan cara bertindak orang tersebut. Kebajikan tersebut terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, hormat kepada orang lain.
Karakter terwujud dari karakter masyarakat dan karakter masyarakat terbentuk dari karakter masing-masing anggota masyarakat bangsa tersebut. Pengembangan karakter, atau pembinaan kepribadian pada anggota masyarakat, secara teoretis maupun secara empiris, dilakukan sejak usia dini hingga dewasa. Demikian pula program ”pengembangan karakter” atau ”pembentukan kepribadian bangsa” sebenarnya sudah berlangsung sejak kanak-kanak sampai yang bersangkutan tidak lagi berada pada jenjang dan jalur pendidikan formal dan non-formal. Pembentukan atau pembinaan karakter terus berlangsung di masyarakat dalam berbagai lingkungan kehidupan. Karakter merupakan hasil dari pendidikan dalam arti luas. Karakter Indonesia secara konseptual tercermin dalam rumusan dan kandungan sila-sila Pancasila. Membangun karakter secara psikologis harus bertumpu pada pembangunan hati, otak dan fisik. Dengan demikian pendidikan karakter ditekankan pada internalisasi, personalia atau penghayatan, dan pembentukan prilaku peserta didik. Sebagai suatu usaha yang sadar dan sistematis dalam mengembangkan potensi peserta didik, pendidikan juga merupakan suatu usaha kolektif dari masyarakat dan bangsa dalam mempersiapkan generasi mudanya bagi kehidupan mereka, kelangsungan kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik di masa depan. Oleh karena itu pendidikan harus disikapi sebagai proses pewarisan budaya dan pembangunan bangsa dan karakter (nation and character building) bagi generasi muda. Proses pengembangan karakter dimaksudkan sebagai wahana untuk menjamin kelangsungan serta peningkatan kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa di masa mendatang. Pengembangan yang dilakukan melalui pendidikan harus diwujudkan dalam bentuk proses pengembangan potensi diri setiap peserta didik sebagai komponen pendukung karakter di masa mendatang. Oleh karena itu proram pendidikan karakter haruslah berfokus pada pengembangan nilai-nilai karakter yang mendasar dan baik atau fundamental, diperlukan, dan diinginkan oleh masyarakat dan bangsa.
Pengembangan pendidikan karakter sangat strategis bagi keberlangsungan dan keunggulan bangsa di masa mendatang. Pengembangan tersebut harus dilakukan dengan perencanaan yang baik, pendekatan yang sesuai, dan metode belajar dan pembelajaran yang efektif. Sesuai dengan sifat nilai,  pendidikan karakter merupakan usaha bersama sekolah dan oleh karenanya harus dilakukan secara bersama oleh semua guru, semua mata pelajaran, dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya sekolah.
Pendidikan karakter merupakan proses pendidikan yang berpusat pada pengembangan nilai-nilai karakter pada masyarakat sekolah termasuk di dalamnya dan paling utama peserta didik. Pengembangan nilai-nilai tersebut harus tetap menempatkan peserta didik sebagai subjek yang aktif mempelajari, menginternalkan, memasukkan nilai dalam sistem nilai yang sudah ada pada dirinya, menjadikan nilai baru tersebut menjadi bagian dari kepribadian dirinya. Secara kontekstual nilai-nilai itu terus berkembang selama mereka berada dalam proses pendidikan di sekolah dan masyarakat, dan menjadi dasar untuk mempelajari nilai-nilai baru setelah sepenuhnya berkarya di masyarakat.
Dengan perkataan lain, nilai-nilai karakter yang dimiliki peserta didik tersebut akan menjadi modal dasar menjadikan mereka sebagai warganegara Indonesia yang mampu membangun bangsa dan negaranya.
2. Landasan Pedagogis Pendidikan Karakter
Pendidikan pada dasarnya merupakan suatu upaya sadar untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. Usaha sadar tersebut tidak boleh dilepaskan dari lingkungan dimana peserta didik berada terutama dari lingkungan budayanya (Ki Hajar Dewantara; Pring; Oliva) karena peserta didik hidup dalam lingkungan tersebut dan bertindak sesuai dengan kaedahkaedah budayanya. Pendidikan yang tidak dilandasi oleh prinsip tersebut akan menyebabkan peserta didik tercerabut dari akar budayanya. Ketika hal ini terjadi maka mereka tidak akan mengenal budayanya dengan baik sehingga ia menjadi orang “asing” dalam lingkungan budayanya. Selain menjadi orang asing, yang lebih mengkhawatirkan adalah dia menjadi orang yang tidak menyukainya budayanya. Budaya yang menyebabkan peserta didik tumbuh dan berkembang dimulai dari budaya di lingkungan terdekat (kampung, RT, RW, desa) berkembang ke lingkungan yang lebih luas yaitu budaya nasional bangsanya dan budaya universal yang dianut oleh ummat manusia. Apabila peserta didik menjadi asing terhadap budaya terdekatnya maka dia tidak mengenal dengan baik budaya bangsanya dan dirinya sebagai anggota budaya bangsa. Dalam situasi demikian maka dia sangat rentan terhadap pengaruh budaya luar dan bahkan cenderung untuk menerima budaya luar tanpa proses pertimbangan (valueing). Kecenderungan itu terjadi karena dia tid ak memiliki norma (anomi) dan nilai budaya nasional nya yang dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan pertimbangan tersebut. Semakin kuat dasar pertimbangan yang dimilikinya akan semakin kuat pula kecenderungannya untuk tumbuh dan berkembang menjadi warganegara yang baik. Pada titik kulminasinya, norma dan nilai budaya tersebut secara kolektif dalam konteks makro akan menjadi norma dan nilai budaya bangsanya. Dengan demikian peserta didik sebagai anak bangsa dan warganegara Indonesia akan memiliki wawasan, pola berpikir, pola sikap, dan pola tindak dan menyelesaikan masalah yang sesuai dengan norma dan nilai ciri ke-Indonesia-annya. Hal ini sesuai dengan fungsi utama pendidikan yang diamanatkan dalam UU Sisdiknas yaitu “mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa” . Oleh karena itu aturan dasar yang mengatur pendidikan nasional (UUD 1945 dan UU Sisdiknas) sudah memberikan landasan yang kokoh untuk mengembangkan keseluruhan potensi diri seseorang sebagai anggota masyarakat dan bangsa. Secara kultural pendidikan berfungsi untuk mewariskan nilai-nilai dan prestasi masa lalu ke generasi muda melalui proses enkulturasi. Nilai-nilai dan prestasi tersebut akan menjadi kebanggaan bangsa dan pada gilirannya akan menjadikan bangsa tersebut lebih dikenal oleh bangsa-bangsa lain. Selain berfungsi mewariskan nilai, pendidikan juga memiliki fungsi untuk mengembangkan nilai-nilai budaya dan prestasi masa lalu itu menjadi nilainilai budaya bangsa yang sesuai dengan kehidupan masa kini dan masa yang akan datang serta mengembangkan prestasi baru yang menjadi karakter baru bangsa. Oleh karena itu, pendidikan karakter merupakan inti dari suatu pendidikan. Proses pengembangan nilai-nilai karakter tersebut menghendaki suatu proses yang berkelanjutan (never ending process), dilakukan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum (pendidikan kewarganegaraan, sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, bahasa Indonesia, IPS, IPA, matematika, agama, pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan, seni, serta ketrampilan). Dalam mengembangkan pendidikan karakter kesadaran akan siapa dirinya dan bangsanya adalah bagian yang teramat penting. Selain itu dalam pendidikan karakter harus terbangun pula kesadaran, pengetahuan, wawasan, dan nilai berkenaan dengan lingkungan di mana dirinya dan bangsanya hidup (geografi), nilai yang hidup di masyarakat (antropologi), sistem sosial yang berlaku dan sedang berkembang (sosiologi), sistem ketatanegaraan, pemerintahan, dan politik (ketatanegaraan/politik/ kewarganegaraan), bahasa Indonesia dengan cara berpikirnya, kehidupan perekonomian, ilmu, teknologi, dan seni. Artinya, perlu ada upaya terobosan terhadap kurikulum berupa pengembangan nilai-nilai yang menjadi dasar bagi pendidikan karakter. Dengan terobosan kurikulum yang demikian maka nilai dan karakter yang dikembangkan pada diri peserta didik akan sangat kokoh dan memiliki dampak nyata dalam kehidupan dirinya, masyarakat, bangsa dan bahkan ummat manusia.
Pendidikan karakter dilakukan melalui pendidikan nilai-nilai atau kebajikan (virtue) yang menjadi nilai dasar karakter. Kebajikan yang menjadi atribut suatu karakter pada dasarnya adalah nilai. Oleh karena itu pendidikan karakter pada dasarnya adalah pengembangan nilai-nilai yang berasal dari pandangan hidup/ideologi bangsa Indonesia, agama, budaya, dan nilai-nilai yang terumuskan dalam tujuan pendidikan nasional.
3. Fungsi Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter berfungsi sebagai:
a. wahana pengembangan, yakni: pengembangan potensi peserta didik untuk menjadi berperilaku yang baik bagi peserta didik yang telah memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan karakter;
b. wahana perbaikan, yakni: memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk lebih bertanggungjawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat; dan
c. wahana penyaring, yakni: untuk menyaring budaya-budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai karakter.
4. Tujuan Pendidikan Karakter
Tujuan pendidikan karakter sebagai berikut:
a. Mengembangkan potensi kalbu/nurani atau afektif peserta didik sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai-nilai karakter;
b. Mengembangkan kebiasaan dan perilaku (habituasi) peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religious;
c. Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggungjawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa;
d. Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan;
e. Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity).
5. Nilai-nilai dalam Pendidikan Karakter
Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter diidentifikasi dari sumber-sumber sebagai berikut:
a. Agama: masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena itu kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Secara politis kehidupan kenegaraan pun didasari oleh nilai-nilai yang berasal dari agama. Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai-nilai pendidikan karakter harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama.
b. Pancasila: negara Kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsipprinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasila terdapat pada Pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan lebih lanjut dalam pasal-pasal yang terdapat dalam UUD 1945 tersebut. Artinya, nilainilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya, dan seni yang diatur dalam pasal-pasal UUD 1945. Pendidikan karakter bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang lebih baik, yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupannya sebagai warga negara.
c. Budaya: adalah suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat tersebut. Nilai-nilai budaya tersebut dijadikan dasar dalam memberi makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antaranggota masyarakat tersebut. Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilainilai dari pendidikan karakter.
d. Tujuan Pendidikan Nasional: tujuan pendidikan nasional mencerminkan kualitas yang harus dimiliki setiap warga negara Indonesia, dikembangkan oleh berbagai satuan pendidikan di berbagai jenjang dan jalur. Dalam tujuan pendidikan nasional terdapat berbagai nilai kemanusiaan yang harus dimiliki seorang warga negara Indonesia. Oleh karena itu, tujuan pendidikan nasional adalah sumber yang paling operasional dalam pengembangan pendidikan karakter dibandingkan ketiga sumber yang disebutkan di atas.
Berdasarkan keempat sumber nilai tersebut maka teridentifikasi sejumlah nilai untuk pendidikan karakter sebagai berikut ini:
1) Religius : Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
2) Jujur: Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3) Toleransi: Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis,pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya
4) Disiplin: Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5) Kerja keras: Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya
6) Kreatif: Berpikir dan melakukan sesuatu yang menghasilkan cara atau hasil baru berdasarkan apa yang telah dimiliki
7) Mandiri: Sikap dan prilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas
8) Demokratis: cara berfikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain
9) Rasa ingin tahu: sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar
10) Semangat kebangsaan: cara berpikir, bertindak, dan wawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11) Cinta tanah air: Cara berfikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsanya.
12) Menghargai prestasi: Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain
13) Bersahabat/komunikatif: Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerjasama dengan orang lain.
14) Cinta damai: Sikap, perkataan dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya
15) Senang membaca: Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16) Peduli sosial: sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan kepada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
17) Peduli lingkungan: Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
18) Tanggungjawab: Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan YME.

B. KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR
1. Pertumbuhan dan Perkembangan Jasmani
Pertumbuhan manusia sangat kompleks, bukan hanya karena adanya variasi di antara dua jenis kelamin atau di antara dua orang yang berbeda, tetapi juga ada variasi di dalam diri orang yang sama dari waktu ke waktu selama proses pertumbuhan berlangsung. Masa kanak-kanak memiliki karakteristik pertumbuhan yang lamban dan relatif stabil. Tulang-tulang masih lemah dan akan tetap bertahan seperti itu hingga masa pertumbuhan berakhir, yaitu sekitar akhir masa remaja.
Masa kanak-kanak merupakan periode yang ditandai dengan peningkatan tinggi badan, berat badan dan massa otot secara terus menerus. Laju pertumbuhan pada masa kanak-kanak memang tidak secepat pada periode awal atau masa bayi, dan berangsur-angsur akan melambat seiring masuknya anak ke usia remaja. Masa kanak-kanak secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 periode, yaitu:
1) periode usia 2 sampai 6 tahun yang disebut dengan awal masa kanak-kanak (usia kelompok bermain–taman kanak-kanak),
2) periode usia 6 sampai 9 tahun yang disebut dengan periode pertengahan masa kanak-kanak (usia kelas 1–4 sekolah dasar), dan
3) periode usia 9 sampai 12 tahun yang disebut dengan periode akhir masa kanak-kanak (usia kelas 4–6 sekolah dasar).
Pola gerak dasar (lari, jalan lompat) akan dapat dilakukan dengan baik di pertengahan masa kanak-kanak, tetapi kemampuan koordinasinya masih kurang dan ini berimplikasi terhadap kemampuan anak-anak untuk belajar keterampilan yang kompleks. Sementara itu tahun-tahun masa adolesen adalah waktunya pertumbuhan yang sangat cepat. Anak perempuan memasuki masa percepatan pertumbuhan lebih dahulu dibanding anak laki-laki, dan juga berhenti lebih cepat. Pertambahan tinggi badan lebih dahulu dialami sebelum pertambahan berat dan kekuatan.
a. Sistem Saraf
Rasa sakit, panas dan gerakan diterima oleh seseorang melalui penerima khusus dikulit, otot dan sendi. Refleks merupakan gerak otomatis yang merupakan respons dari kondisi khusus; misalnya gerak menarik tangan saat jari tersentuh panci panas. Namun setiap orang juga dibekali kemampuan untuk melakukan kontrol terhadap setiap gerakan yang akan dilakukan. Sistem saraf merupakan sistem komunikasi dan “komputer”nya tubuh. Saraf meneruskan impuls atau signal elektris yang membawa pesan dari, ke dan di dalam otak. Sistem saraf meliputi otak, spinal cord, dan saraf peripheral yang menstimulasi otot-otot. Pada Gambar 2 dapat dilihat ilustrasi bagian-bagian otak.
Midbrain (letaknya di bagian bawah) merupakan bagian otak yang sudah berkembang penuh pada saat dilahirkan. Fungsi bagian ini adalah mengendalikan seluruh gerak refleks yang sudah dimiliki oleh setiap bayi sejak lahir.
PENGENDALI SELURUH AKTIVITAS
(Sumber: J.Weir & P.H.Abrahams. Imaging Atlas of Human Anatomy. CR-Rom.London: Primal Pictures.Ltd.)
Gambar 2. Bagian-bagian Utama Otak
Cerebral cortex merupakan bagian otak yang mengontrol respon gerak sadar (voluntary motor responses) dan penting untuk pemerolehan serta penguasaan bahasa, berpikir abstrak, dan semua proses kognisi. Perkembangannya akan mencapai maksimal pada usia 4 tahun. Bagian pengontrol sistem motorik berada di cortex, yang fungsinya adalah mengontrol gerak tubuh bagian atas, togok badan, lengan dan tangan. Bagian ini akan berkembang pesat pada usia 6 bulan, sementara bagian lain yang fungsinya mengontrol tungkai dan kaki akan berkembang kemudian. Bagian terakhir yang akan berkembang adalah cerebellum. Fungsi utama dari bagian ini mengontrol atau mengatur gerak, khususnya keterampilan gerak. Fungsi lainnya adalah menjaga keseimbangan tubuh.
b. Kerangka
Tulang membentuk kerangka, menopang berat tubuh dan membentuk pengungkit agar seseorang dapat bergerak. Terdapat 206 tulang keras pada orang dewasa, dan susunan serta komposisinya menentukan penampakan tubuh secara keseluruhan. Semuanya itu semula berwujud tulang yang lunak dan rapuh. Struktur kerangka tubuh semula berupa jaringan tulang rawan yang lunak, yang kemudian akan mengeras seiring dengan bertambahnya usia. Proses ini disebut osifikasi (ossification) yaitu proses tulang menjadi keras dan kaku. Kecepatan dan kesempurnaan osifikasi sangat individual. Tulang anak dalam masa pertumbuhanbelum sepenuhnya mengeras (proses osifikasi belum sempurna), relatif masih lunak dan lentur, sehingga masih mampu mengabsorb tekanan atau beban tanpa menjadi patah. Aktivitas jasmani dapat meningkatkan kekuatan tulang, namun kecelakaan atau cedera dapat menyebabkan kerusakan atau cedera yang menetap, khususnya pada atlet muda.
c. Sendi
Sendi adalah penghubung 2 tulang. Kedua ujung tulang dibungkus/ dilindungi oleh tulang rawan, agar gerakan lancar. Beberapa sendi memiliki pelumas sendi untuk mengurangi gesekan antar 2 ujung tulang. Fungsi pelumas ini sama dengan fungsi oli pada mesin. Ada sendi yang memiliki rentang gerak sangat luas dan dapat bergerak ke semua arah, contohnya adalah sendi bahu, sementara sebagian yang lain kurang luas geraknya, bahkan ada yang hanya bergerak ke satu arah, contoh lutut dan tulang belakang. Banyak pula sendi yang dihubungkan oleh ligamen. Ligamen ini kuat, merupakan ikatan serabut, sekali rusak atau tertarik, tidak akan kembali ke bentuk atau fungsi asalnya, dan akibatnya sendi menjadi tidak stabil (sering terjadi di lutut).
d. Otot dan Tendon
Otot bertanggung jawab terhadap gerak. Saat otot berkontraksi ia akan memendek dan menggerakkan tulang yang dilekatinya. Setiap gerak selalu merupakan hasil tarikan otot terhadap tulang, tidak pernah merupakan hasil dorongan. Otot melintasi satu atau lebih sendi dan seringkali berkelompok sesuai dengan jenis geraknya (contoh kelompok otot hamstring dan quadriceps). Berat otot sekitar 40% dari berat tubuh dan akan berkembang menjadi lebih kuat bila diberi latihan yang tepat. Bagian ujung otot yang melekat pada tulang berupa jaringan yang kuat dan liat, disebut tendon. Otot membutuhkan energi untuk kontraksi. Gerakan yang membutuhkan waktu singkat dapat dilakukan dengan memanfaatkan energi yang tersedia di dalam otot.
Sementara latihan yang dilakukan dalam waktu lama memerlukan oksigen dan bahan bakar (gula dan lemak) di dalam otot. Otot sama dengan mesin, membakar bahan bakar (yang berasal dari makanan) agar bisa bergerak, menjadi panas dan menghasilkan/mengeluarkan sisa buangan. Sama dengan motor yang memerlukan percikan api untuk menyala, otot memerlukan signal saraf agar dapat bergerak.
Selama masa perkembangan, otot akan tumbuh seiring dengan tumbuhnya tulang. Membesarnya ukuran otot, baik karena pertumbuhan alami maupun sebagai akibat adanya stimulasi (latihan, obat-obatan, dsb) disebut hipertropi (hypertrophy).
Gambar 3. Anatomi Otot
(Sumber: R. P. Pangrazi. Dynamic Physical Education for Elementary School
Children. San Fransisco: Pearson Education, Inc. 2004:284)
Pada umumnya, saat anak bertambah besar seiring dengan bertambahnya usia, kekuatannya juga akan meningkat. Sejumlah penelitian mengenai kekuatan statis pada anak-anak, yang diukur dengan grip dynamometer, menunjukkan hasil yang hampir sama antara anak perempuan dan laki-laki, dengan peningkatan sekitar 65% dalam periode usia 3 hingga 6 tahun. Pada rentang usia 6 sampai 18 tahun, kekuatan anak laki-laki akan meningkat hingga 359%, sementara anak perempuan akan meningkat hingga 260%. Secara umum, perkembangan kekuatan anak perempuan memang sedikit di bawah anak laki-laki, namun pada periode akil balik perkembangan kekuatan anak laki-laki jauh berada di atas anak perempuan.
Kondisi ini sangat dipengaruhi oleh meningkatnya hormon testosteron pada anak laki-laki yang kemudian diikuti dengan bertambahnya berat dan ukuran serabut otot.
e. Kardio-Respiratori
Sistem kardio-respiratori terdiri dari jantung, paru-paru, arteri, kapiler dan vena. Jantung dan paru-paru selalu siap menyediakan oksigen untuk semua fungsi tubuh. Jantung sebenarnya adalah salah satu jenis otot, sebesar kepalan tangan di tengah dada bagian kiri. Satu sisi jantung menerima darah yang memuat oksigen segar dari paru-paru dan mengantarkannya ke seluruh tubuh melalui pembuluh arteri. Darah akan kembali ke sisi lain jantung dan melalui pembuluh vena di pompa kembali ke paru-paru. Pada orang dewasa, bahkan dalam keadaan istirahat, jantung akan memompa darah sekitar 5 liter tiap menit. Jantung akan berdetak lebih cepat dan lebih keras selama seseorang melakukan latihan dan seperti otot yang lain, jantung akan menjadi lebih baik bila seseorang berlatih secara teratur.
Darah adalah campuran dari air, sel dan nutrisi, dan merupakan sistem angkutan/tranportasi di dalam tubuh. Paru-paru memiliki permukaan yang lebar untuk memudahkan pergantian oksigen dan gas-gas yang lain. Gambar 3
menunjukkan bagian-bagian jantung. Setiap kali jantung memompa akan menimbulkan detakan, yang disebut dengan denyut. Denyut ini dihitung frekuensinya per menit; bila denyut berkecepatan 75 per menit artinya jantung berdetak 75 kali per menit. Penghitungan denyut biasanya dilakukan melalui pergelangan tangan, selama 10 sampai 15 detik.
Sistem respiratori atau pernafasan meliputi organ hidung, mulut, tenggorokan, bronchi dan paru-paru. Gambar 4 menunjukkan komponen-komponen dalam sistem ini. Bernafas meliputi aktivitas menarik dan mengeluarkan udara, dan di dalam udara terkandung 21% oksigen yang dibutuhkan manusia untuk hidup.
Fungsi utama dari paru-paru adalah menyediakan oksigen bagi tubuh, yang dibawa melalui aliran darah menuju seluruh sel dalam tubuh.
(Sumber: R. P. Pangrazi. Dynamic Physical Education for
Elementary School Children. San Fransisco: Pearson
Education, Inc. 2004:285)
Jumlah oksigen yang diperlukan oleh tubuh, sangat tergantung pada aktivitas yang dilakukan. Bila seseorang melakukan kerja atau latihan berat, maka kecepatan respirasinya akan meningkat dan dengan sendirinya akan membawa lebih banyak oksigen. Jika jumlah oksigen yang disuplai ke sel-sel tubuh mencukupi untuk mempertahankan tingkat aktivitas, maka aktivitas itu disebut aerobik atau daya tahan aerobik. Sebaliknya jika aktivitas yang dilakukan memiliki intensitas yang tinggi, seperti lari cepat atau lari naik tangga, dan kecepatan suplai oksigen tidak dapat mengimbangi kecepatan aktivitas, maka pada saat itu selama waktu yang relatif singkat fungsi tubuh berjalan tanpa bantuan oksigen. Keadaan ini disebut dengan “hutang oksigen”, yang harus dibayar kemudian. Aktivitas semacam ini disebut dengan anaerobik.
2. Perkembangan Keterampilan Motorik
Dengan meningkatnya ukuran-ukuran dan makin matangnya fungsi-fungsi jasmani, anak-anak juga akan memperoleh perkembangan kemampuan dalam keterampilan motorik. Meskipun sebagian besar perilaku merupakan hasil belajar, perlu diingat bahwa faktor kematangan sangat berpengaruh dan akan membatasi jenis-jenis keterampilan yang dapat dipelajari dan seberapa banyak keterampilan yang mampu dipelajari. Kecakapan dalam keterampilan motorik sangat dipengaruhi oleh tingkat perkembangan jasmani.
Perkembangan perilaku motorik terdiri dari 5 tahap, yaitu: tahap reflektif, elementer, gerak dasar, spesifik dan spesialisasi. Perincian dari kelima tahap tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 1 Tahap Perilaku Motorik
TINGKAT
PERKEMBANGAN
TAHAPAN
CONTOH KARAKTERISTIK
PERILAKU
Sebelum lahir – masa bayi
(-5 bln – 1 tahun) Reflektif Menghisap, meraih, fleksi, ekstensi,
postural adjustments
Masa bayi
(0 sampai 2 tahun) Elementer Berguling, duduk, merangkak,
merambat, berdiri, berjalan, meraih
Awal masa kanak-kanak
(2 sampai 7 tahun) Gerak dasar Lokomotor, nonlokomotor, manipulatif,
dan kesadaran gerak
Pertengahan-hingga akhir
masa kanak-kanak
(8 sampai 12 tahun)
Spesifik
Penyempurnaan gerak dasar dan
kesadaran gerak; gerak dasar tari-tarian,
permainan/ olahraga, senam dan aktivitas
akuatik
Remaja sampai dewasa
(12 tahun ke atas) Spesialisasi Aktivitas rekreasional dan atau sampai
kompetitif.
(Sumber: Carl Gabbard, Elizabeth LeBlanc & Susan Lowy. Physical
Education for Children: Building the Foundation. Englewood Cliffs, NJ:
Prentice-Hall, Inc. 1987, p:22)
Berikut ini akan diuraikan karakteristik perilaku motorik pada masing-masing tahap perkembangan, namun demikian agar pembahasan lebih terfokus pada batasan usia dini, maka yang akan diuraikan dalam kesempatan ini adalah tahap gerak dasar, spesifik dan spesialisasi.
a. Tahap Gerak Dasar
Gerak dasar yang meliputi gerak lokomotor merupakan gerak berpindah tempat, misalnya; berjalan, berlari, dan melompat, gerak nonlokomotor (stability) merupakan gerakan di tempat, misalnya; gerakan mengayun, memutar, dan menekuk, gerak manipulatif merupakan gerakan memaikan benda menggunakan tangan atau kaki, misalnya; melempar, menangkap, menggiring dan menendang, dan kesadaran gerak (perceptual efficiency) merupakan dasar dari gerak-gerak yang lebih kompleks. Bagi anak yang normal hampir semua bentuk keterampilan dan kesadaran gerak yang terkait dengan gerak dasar dapat dikuasai dengan baik pada derajad tertentu pada usia sekitar 7 tahun, karena pola gerak reflek mempengaruhunya, dalam refleks ini terdapat tiga reaksi: (1). Bila kepala diputar, angota-angota gerak yang terletak diarah putaran wajah akan berekstensi. Sedang yang dibelakang wajah akan melakukan fleksi, (2). Bila kepala menunduk, ekstrimitas atas akan melakukan fleksi, dan ekstrimitas bawah akan melakukan ekstensi, (3). bila kepala ditengadahkan, ektrimitas bawah akan melakukan fleksi sedangkan ekstimitas atas akan melakukan ekstensi.
Keterampilan dasar adalah aktivitas motorik seperti lari, lompat, lempar atau menangkap (pola gerak dasar). Masing-masing memiliki kategori gerak dasarnya, yaitu lokomotor, nonlokomotor dan manipulatif. Tahap perkembangan keterampilan dasar biasanya menggunakan rentang dari belum matang sampai matang atau dari bentuk minimal sampai bentuk keterampilan olahraga. Ini merupakan ciri-ciri keterampilan anak usia 2 sampai 7 tahun.
Keterampilan olahraga merupakan pola gerak dasar yang sudah matang, yang diadaptasi untuk kebutuhan gerak khusus dalam suatu cabang olahraga, misalnya passing-throwing (melempar-menangkap) dalam cabang olahraga bola basket, lompat jauh (melompat), dan lari dalam cabang sepakbola.
Keterampilan nonlokomotor, atau kadangkala juga disebut stability skills, adalah gerakan yang dilakukan dengan sesedikit mungkin atau sama sekali tanpa berpindah pijakan/tumpuan, misalnya bergoyang (twisting, swaying), membungkuk dan lainnya. Gerak nonlokomotor biasanya dikuasai hampir bersamaan dengan gerak lokomotor.
Keterampilan manipulatif adalah bentuk keterampilan yang memerlukan kemampuan untuk mengontrol benda atau objek dengan menggunakan tangan atau kaki. Terdapat 2 jenis keterampilan manipulatif, yaitu reseptif dan propulsif.
Keterampilan manipulatif reseptif adalah kemampuan untuk menerima dan mengendalikan objek, seperti menangkap bola, mencegat bola. Sementara manipulatif propulsif ditandai dengan adanya pengerahan tenaga terhadap objek, seperti menendang, memukul, melempar.
b. Tahap Spesifik
Keterampilan dan kesadaran terhadap gerak yang dikuasai anak-anak selama masa tahapan dasar, sedikit demi sedikit akan makin membaik akurasinya maupun kemampuan adaptasinya. Pada usia sekitar 8-9 tahun, perkembangan sosial anak memiliki peran sebagai stimulan dalam proses “memperbaiki gerak”, khususnya bentuk-bentuk gerakan yang diperlukan untuk memainkan permainan yang saat itu sedang populer. Selama masa akhir tahap ini, sekitar usia 9-12 tahun, banyak bentuk-bentuk keterampilan dasar yang sudah dapat dikuasai dengan baik oleh anak-anak dan akan terus membaik. Mereka juga mulai dapat melakukan gerakgerak dasar dalam berbagai variasi dan situasi yang lebih kompleks, atau dalam permainan olahraga kecabangan.
c. Tahap Spesialisasi
Selama masa remaja dan kemudian berlanjut hingga dewasa, kemampuankemampuan yang khusus dapat diasah agar menjadi makin baik sekaligus diterapkan atau diadaptasikan dalam bentuk keterampilan tertentu atau spesialisasi. Keberhasilan memperbaiki keterampilan dalam bentuk atau untuk spesialisasi, sangat tergantung pada adanya minat dan latihan.
3. Pola Pertumbuhan dan Perkembangan
Pemahaman terhadap prinsip-prinsip perkembangan akan membantu kita untuk dapat menyusun perencanaan kegiatan pembelajaran, memberikan stimulasi dan pengayaan pengalaman yang sesuai bagi anak-anak. Dengan pemahaman ini, kita juga akan dapat melakukan yang tindakan yang tepat untuk menyemangati dan mendukung anak dalam belajar.
Terdapat seperangkat prinsip yang menjadi karakteristik pola dan proses pertumbuhan dan perkembangan. Prinsip-prinsip ini akan menjelaskan tipikal perkembangan sebagai suatu proses yang berurutan dan dapat diramalkan atau diprediksi. Menurut Ruffin (2001) kita dapat meramalkan bagaimana sebagian besar anak akan berkembang dengan kecepatan yang sama dan pada waktu yang hampir bersamaan dengan anak lain yang seusianya. Meskipun terdapat beberapa perbedaan dalam satu dua aspek, namun pola tumbuh-kembang anak-anak dapat dikatakan berlaku secara universal.
a. Prinsip Perkembangan
(1) Perkembangan dimulai dari kepala ke arah kaki.
Prinsip ini menjelaskan mengenai arah perkembangan dan pertumbuhan. Menurut prinsip ini, anak-anak akan terlebih dahulu mampu mengontrol bagian kepalanya, kemudian lengan dan terakhir tungkai. Kemampuan mengkoordinasi lengan akan diikuti dengan kemampuan mengkoordinasi tungkai.
(2) Perkembangan dimulai dari bagian tengah ke bagian luar tubuh. Prinsip ini menjelaskan arah perkembangan. Menurut prinsip ini, sum-sum tulang belakang (spinal cord) berkembang terlebih dahulu, sebelum bagian yang lebih luar. Atau dengan kata lain, perkembangan dimulai dari bagian tengah tubuh ke arah luar. Lengan akan berkembang terlebih dahulu sebelum tangan, dan tangan atau kaki akan berkembang sebelum jarijemari. Jari-jemari baik di tangan maupun di kaki, yang digunakan untuk gerak motorik halus merupakan bagian yang terakhir berkembang dalam proses perkembangan fisik.
(3) Perkembangan tergantung pada kematangan dan pembelajaran.
Kematangan merujuk pada urut-urutan karakteristik pertumbuhan dan perkembangan biologis. Perubahan biologis berlangsung secara berurutan dan akan memberi kemampuan baru bagi anak-anak. Perubahan pada otak dan sistem saraf lebih banyak tergantung pada adanya proses pematangan.
Perubahan di bagian ini akan menyebabkan meningkatnya kemampuan anak-anak dalam berpikir (kognitif) dan keterampilan motorik (fisik). Di samping itu, anak-anak harus terlebih dahulu mencapai kematangan pada titik tertentu sebelum ia mampu berkembang lebih lanjut untuk menguasai keterampilan yang baru. Lingkungan dan pembelajaran yang dialami oleh anak-anak memiliki berpengaruh besar terhadap optimasi perkembangan anak-anak. Rangsangan lingkungan dan pengalaman yang beragam akan membuat anak mampu mengembangkan kemampuannya secara maksimal.
(4) Perkembangan dimulai dari sesuatu yang simpel/nyata ke arah yang lebih kompleks.
Anak-anak menggunakan kognisi dan keterampilan bicaranya untuk memberikan alasan dan memecahkan masalah. Sebagai contoh, belajar hubungan antara 2 benda, mencari kesamaannya atau penggolongannya merupakan kemampuan yang penting untuk mengembangkan kognisi. Proses kognisi pada saat belajar bagaimana atau apa kesamaan antara apel dan jeruk, dimulai dari tahap pemikiran yang mudah tentang ciri-ciri 2 objek. Bila tidak melihat adanya kesamaan, maka anak-anak usia kelompok bermain akan mendeskripsikan objek berdasarkan beberapa ciriciri dari objek tersebut, misalnya ciri warnanya. Barangkali responsnya: “apel berwarna merah dan jeruk oranye”. Tahap pertama dari proses berpikir tentang apa kesamaan 2 objek, sama dengan mendeskripsikan atau mencari hubungan fungsional di antara kedua objek tersebut. Bila kemampuan kognisi anak makin berkembang, mereka akan mampu memahami hubungan yang lebih kompleks dari 2 objek atau benda.
(5) Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang terus-menerus dan berkelanjutan.
Seiring dengan perkembangan, anak-anak akan makin menguasai keterampilan-keterampilan yang sudah mereka pelajari dan menambah keterampilan baru. Selanjutnya keterampilan baru ini akan menjadi dasar bagi penguasaan keterampilan baru yang lain. Pola ini berlaku pada sebagian besar anak. Satu tahap perkembangan akan menjadi dasar bagi perkembangan selanjutnya, demikian seterusnya. Bayi terlebih dahulu mampu menggerakkan lengan dan tungkai sebelum mampu meraih sesuatu.
(6) Pertumbuhan dan perkembangan dimulai dari hal yang umum ke hal yang khusus.
Dalam perkembangan motorik, bayi akan terlebih dahulu meraih sesuatu dengan tangannya sebelum mampu melakukannya dengan hanya menggunakan jemari tangannya, atau hanya menggunakan jari telunjuk dan ibu jarinya. Awal gerak motorik bayi sangat umum, tidak terarah, dan reflektif. Pertumbuhan terjadi dari gerak otot besar ke gerak otot yang lebih kecil/halus.
(7) Kecepatan pertumbuhan dan perkembangan bersifat individual.
Setiap anak berbeda dan kecepatan pertumbuhannya juga berbeda-beda. Meskipun pada umumnya pola dan tahapan perkembangan dan pertumbuhannya sama, tetapi kecepatan mencapai tingkat perkembangan
tertentu bisa berbeda-beda. Dengan memahami kenyataan bahwa kecepatan perkembangan bersifat individual, maka kita harus berhati-hati karena usia tidak dapat dengan begitu saja digunakan sebagai patokan untuk mendeskripsikan atau menyimpulkan tingkat perkembangan seorang anak. Beberapa anak akan mulai berjalan pada usia 10 bulan sementara beberapa yang lain baru dapat berjalan beberapa bulan lebih tua hingga sekitar usia18 bulan. Anak juga ada yang pasif, dan ada juga yang aktif. Namun bukan berarti bahwa anak yang aktif lebih cerdas dari anak yang pasif. Hingga saat ini belum ada komparasi yang benar-benar valid untuk membandingkan kemajuan antar satu anak dengan lainnya.
b. Karakteristik Masa Anak-anak (anak besar) usia 6 Sampai 12 Tahun ditinjau dari Ranah Kognitif, Afektif, Perkembangan Gerak dan Implikasi Program Perkembangan Gerak Perkembangan ranah afektif bisa dikatakan dramatis selama awal tahun masa anak-anak. Selama periode ini, anak dilibatkan di dalam kedua tugas baik itu tugas sosial dan emosional yang penting untuk perkembangkan inisiatif pada anak (prakarsa). Anak-anak terlibat dalam pengalaman-pengalaman baru, seperti memanjat, melompat, berlari, dan melemparkan sesuatu, demi mereka sendiri dan untuk kegembiraan saja dan mengetahui apakah mereka mampu melakukan.
Kegagalan untuk mengembangkan inisiatif/ prakarsa dan kebebasan Anak laki-laki dan perempuan bersifat sebangun di dalam pola pertumbuhan mereka, dengan pola pertumbuhan anggota tubuh (seperti lengan, tungkai) menjadi lebih cepat dari pertumbuhan bagian togok sepanjang masa anak-anak. memimpin memunculkan perasaan malu, tidak berharga, dan rasa bersalah. Penetapan dari suatu konsep diri yang stabil adalah yang penting kepada pengembangan ranah afektif pada seorang anak karena itu berpengaruh fungsi
kognitif dan psikomotor. Melalui perantara permainan, anak kecil mengembangkan suatu asas daya gerak yang luas, manipulatif, dan kemampuan-kemampuan stabilitas. Dengan suatu konsep diri yang positif dan yang stabil, keuntungan pengontrolan otot dapat terkendalli lebih lancar. Rasa takut, berhati-hati, dan terukur dalam bergerak pada anak usia 6 sampai 7 tahun secara berangsur-angsur akan memberikan rasa percaya diri, keinginantahuan. Imajinasi-imajinasi hidup memungkinkan anak dapat melakukan melompat dan memanjat Karakteristik-karakteristik perkembangan berikut dapat diwakili menunjukkan suatu perpaduan dari sebuah sumber yang luas dan diperkenalkan di sini untuk menyediakan suatu pandangan yang lebih lengkap secara keseluruhan kondisi anak selama awal tahun masa anak-anak sangat luas
1) Karakteristik Perkembangan Fisik dan Gerak
(a) Anak laki-laki dan perempuan memiliki tinggi badan dari sekitar 111,8-152,4 cm dan memiliki berat badan20.0-40.8 kg
(b) Pertumbuhan melambat, terutama dari usia 8 hingga terakhir dari periode ini. Ada saat pertumubuhan melambat tetapi masih ada kenaikan-kenaikan, tidak seperti keuntungan kecepatan penambahan tinggi dan berat selama masa pra-sekolah.
(c) Tubuh mulai bertambah tinggi, dalam satu tahun tingginya bertambah dari 5.1-7.6 cm dan dalam satu tahun berat badan bertambah dari 1.4-2.7 kg.
(d) Cephalocaudal (dari kepala ke kaki) dan proximodistal (pusat ke batas luar) prinsip-prinsip dari perkembangan di mana pada kenyataannya otot-otot yang besar dari tubuh itu lebih cepat perkembangannya dibanding otot-otot yang kecil.
(e) Anak perempuan secara umum sekitar satu tahun di depan anak lakilaki di dalam perkembangan fisiologis, dan membedakan minat mulai muncul pada akhir periode ini.
(f) Pilihan tangan adalah sekitar 85 persen lebih menyukai tangan kanan dengan dibentuk kuat dan sekitar 15 persen yang lebih menyukai tangan kiri
(g) Anak laki-laki dan anak perempuan adalah keduanya penuh dengan energi tetapi sering kali rendah dalam menguasai daya tahan, mengukur daya tahan dan mudah lelah. Kemampuan reaksi pada latihan bagaimanapun sangat besar.
(h) Mekanisme-mekanisme perceptual visual secara penuh dibentuk/mapan pada akhir periode ini.
(i) Aktivitas yang yang melibatkan mata dan anggota tubuh- anggota tubuh lain berkembang pelan-pelan. Aktivitas seperti itu seperti memvoly atau membentur bola yang di berdirikan dan melempar memerlukan praktek yang cukup yang mempertimbangkan untuk penguasaan.
2) Karakteristik-Karakteristik Perkembangan ditinjau dari Ranah Kognitif
(a) Tahap perhatian adalah secara umum masih singkat pada awal periode ini, tetapi secara berangsur-angsur akan meluas. Bagaimanapun juga, anak laki-laki dan perempuan dari usia ini akan sering kali memanfaatkan waktu untuk aktivitas yang menjadi minat besar mereka.
(b) Mereka bersiap-siap untuk belajar dan untuk menyenangkan orang dewasa (orang di sekitarnya), tetapi mereka masih membutuhkan bantuan dan bimbingan di dalam membuat keputusan.
(c) Anak-anak mempunyai imajinasi yang baik dan penampilan kreatif yang sangat baik; bagaimanapun rasa malu kelihatan untuk menjadi suatu akhir dari periode ini.
(d) Mereka sering tertarik akan televisi, komputer-komputer, game-game video, dan membaca.
(e) Mereka tidak mampu berpikir abstrak dan sukses terbaik dengan contoh-contoh nyata dan situasi-situasi selama permulaan dari periode ini. Lebih banyak kemampuan-kemampuan teori abstrak bersifat jelas pada akhir periode ini.
(f) Anak-anak dengan beralasan curiga dan ingin mengetahui "mengapa."
3) Karakteristik Perkembangan ditinja dari Ranah Afektif .
(a) Minat dari anak laki-laki dan anak perempuan bersifat sebangun pada awal periode ini tetapi segera mulai untuk berbeda/ menyimpang.
(b) Anak adalah berpusat pada diri sendiri dan bermain dengan kurang baik di dalam kelompok-kelompok yang besar untuk periode waktu yang lama selama tahun yang utama, situasi-situasi kelompok kecil dengan ditangani dengan baik.
(c) Anak sering agresif, membual, kritis, reaksi yang berlebih, dan menerima kekalahan dan memenangkan dengan kurang baik.
(d) Ada satu tidak konsisten tingkat kedewasaan; anak itu sering lebih sedikit bersikap dewasa di rumah dibanding di sekolah.
(e) Anak mau mendengarkan yang berwibawa, "adil" hukuman, disiplin, dan penguatan.
(f) Anak-anak bersifat ingin/gembira dan senang bertualang untuk dilibatkan dengan seorang teman atau kelompok para teman di dalam aktivita berbahaya.
(g) Konsep diri anak itu menjadi dengan kuat dibentuk/mapan.
4) Pelaksanaan untuk Program Perkembangan Gerak
(a) Harus ada peluang untuk anak-anak untuk melakukan gerakan-gerakan pokok di dalam bidang-bidang lokomotor, manipulasi, dan stabilitas sampai batas di mana mereka cairan dan efisien.
(b) Bantuan kebutuhan anak-anak di dalam membuat transisi dari tahap gerakan pokok sampai tahap gerakan yang khusus.
(c) Mereka mempunyai kelompok dan mengamankan tempat-tempat di dalam sekolah mereka dan rumah mereka.
(d) Peluang besar untuk dorongan dan penguatan positif dari orang dewasa adalah perlu mempromosikan pengembangan yang dilanjutkan dari konsep diri yang positif.
(e) Peluang dan dorongan untuk menjelajah dan eksperimen melalui gerakan dengan tubuh dan obyek mereka di dalam lingkungan meningkatkan efisiensi gerak perceptual.
(f) Harus ada praktek agar merasakan di mana ada tanggung jawab lebih besar semakin diperkenalkan dengan mempromosikan kepercayaan pada diri sendiri.
(g) Peluang untuk aktivitas regu harus disediakan di waktu wajar.
(h) Aktivitas Imajiner dan meniru-niru bisa secara efektif disatukan ke dalam program selama tahun karena imajinasi-imajinasi anak-anak itu masih bersemangat
(i) Aktivitas yang dilakukan pada tingkat ini dengan melibatkan pemakaian musik dan irama bersifat menyenangkan dan bersifat berharga di dalam meningkatkan kemampuan-kemampuan gerak dasar, kreativitas, dan suatu pemahaman dasar komponen-komponen dari musik dan irama.
(j) Aktivitas yang melibatkan memanjat dan menggantung adalah berpengaruh baik bagi perkembangkan tubuh bagian atas.
(k) Diskusikan situasi dalam permainan termasuk peraturan permainan seperti itu seperti mengambil giliran, perlakuan wajar, tidak menipu, dan nilai-nilai yang umum lainnya sebagai alat penetapan suatu pengertian yang lebih lengkap dari yang benar atau salah.
(l) Mulai untuk menekankan ketelitian, wujud, dan ketrampilan di dalam kinerja dari ketrampilan-ketrampilan gerakan.
(m)Beri dorongan kepada anak-anak untuk berpikir sebelum mereka bertindak dalam satu aktivitas. Membantu mereka mengenali alat yang berpotensi bahaya sebagai alat mengurangi perilaku mereka yang
sering kali sembrono.
(n) Mendorong ke aktivitas kelompok kecil yang diikuti oleh aktivitas kelompok yang lebih besar dan pengalaman olahraga beregu.
(o) Penggunaan dari aktivitas yang berirama untuk menyaring koordinasi yang diinginkan.
(p) Keterampilan-keterampilan gerakan khusus dikembangkan dan dipilih pada akhir periode ini. Pentingnya waktu luang untuk praktek, dorongan, dan instruksi selektif.
(q) Keikutsertaan yang muda di dalam aktivitas olahraga yang bersifat untuk perkembangan yang sesuai dan menghubungkan kebutuhan dan minat dari anak-anak harus diberikan dorongan.
C. KONSEP PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHARAGA
Pendidikan Jasmani adalah proses pendidikan melalui penyediaan pengalaman belajar kepada peserta didik berupa aktivitas jasmani, bermaian, dan berolahraga yang direncanakan secara sistematis guna merangsang pertumbuhan dan perkembangan fisik, Organik, keterampilan motorik, keterampilan berfikir, emosional, sosial dan moral. Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina, sekaligus membentuk gaya hidup sehat dan aktif sepanjang hayat. Di dalam intensifikasi penyelenggaraan pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup, peranan Pendidikan Jasmani adalah sangat penting, yakni memberikan kesempatan pada peserta didik terlibat langsung dalam aneka pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani, bermain, dan aktivitas olahrga secara sistematis. Hal tersebut merupakan media untuk mendorong perkembangan keterampilan motorik, kemampuan fisik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap mental, emosional, spiritual dan sosial), serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan yang seimbangan.
Melalui pembelajaran Pendidikan Jasmani peserta didik akan memperoleh pengalaman yang erat kaitannya kesan pribadi yang menyenangkan berbagai ungkapan kreatif, inovatif, keterampilan gerak, kesegaran jasmani, pola hidup sehat, pengetahuan dan pemahaman terhadap gerak manusia, juga akan membentuk keperibadian yang positif. Pendidikan Jasmani menekankan aspek pendidikan yang bersifat menyeluruh (kesehatan, kebugaran jasmani, keterampilan berfikir kritis, stabilitas emosional, ketermapilan sosial, penalaran dan tindakan moral), yang merupakan tujuan pendidikan pada umumnya. Atau secara spesifik melalui pembelajaran pendidikan jasmani, peserta didik melakukan kegiatan berupa permainan (game), dan berolahraga ( disesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak). Tidak ada pendidikan yang tidak mempunyai sasaran pedagogis, dan tidak ada pendidikan yang lengkap tanpa adanya Pendidikan Jasmani, karena gerak sebagai aktivitas jasmani adalah dasar bagi manusia untuk mengenal dunia dan dirinya sendiri yang secara alamiah berkembang searah perkembangan zaman.
1. Hakekat Pendidikan Jasmani Pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional. Pendidikan jasmani memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, mahluk total, daripada hanya menganggapnya sebagai seseorang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya.
Pada kenyataannya, pendidikan jasmani adalah suatu bidang kajian yang sungguh luas. Titik perhatiannya adalah peningkatan gerak manusia. Lebih khusus lagi, pendidikan jasmani berkaitan dengan hubungan antara gerak manusia dan wilayah pendidikan lainnya: hubungan dari perkembangan tubuh-fisik dengan pikiran dan jiwanya. Fokusnya pada pengaruh perkembangan fisik terhadap wilayah pertumbuhan dan perkembangan aspek lain dari manusia itulah yang menjadikannya unik. Tidak ada bidang tunggal lainnya seperti pendidikan jasmani yang berkepentingan dengan perkembangan total manusia. Dari pendidikan jasmani diartikan dengan berbagai ungkapan dan kalimat. Namun esensinya sama, yang jika disimpulkan bermakna jelas, bahwa pendidikan jasmani memanfaatkan alat fisik untuk mengembangan keutuhan manusia. Dalam kaitan ini diartikan bahwa melalui fisik, aspek mental dan emosional pun turut terkembangkan, bahkan dengan penekanan yang cukup dalam. Berbeda dengan bidang lain, misalnya pendidikan moral, yang penekanannya benar-benar pada perkembangan moral, tetapi aspek fisik tidak turut terkembangkan, baik langsung maupun secara tidak langsung. Karena hasil-hasil kependidikan dari pendidikan jasmani tidak hanya terbatas pada manfaat penyempurnaan fisik atau tubuh semata, definisi pendikan jasmani tidak hanya menunjuk pada pengertian tradisional dari aktivitas fisik. Kita harus melihat istilah pendidikan jasmani pada bidang yang lebih luas dan lebih abstrak, sebagai satu proses pembentukan kualitas pikiran dan juga tubuh. Karenanya pendidikan jasmani ini harus menyebabkan perbaikan dalam ”pikiran dan tubuh” yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan harian seseorang. Pendekatan holistik tubuh-jiwa ini termasuk pula penekanan pada ketiga domain kependidikan: psikomotor, kognitif, dan afektif. Dengan meminjam ungkapan Robert Gensemer, pendidikan jasmani diistilahkan sebagai proses menciptakan “tubuh yang baik bagi tempat pikiran atau jiwa.”
Artinya, dalam tubuh yang baik ‘diharapkan’ pula terdapat jiwa yang sehat1, sejalan dengan pepatah Romawi Kuno: Men sana in corporesano.
2. Definisi Pendidikan Jasmani Pendidikan jasmani adalah suatu proses pembelajaran melalui aktivitas jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif, sikap sportif, dan kecerdasan emosi. Lingkungan belajar diatur secara seksama untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan seluruh ranah, jasmani, psikomotor, kognitif, dan afektif setiap peserta didik. Hal ini sesuai dengan batasan pengertian pendidikan jasmani menutut UNESCO dalam “ International Charter of Physical Education and Sport ” (1978), sebagai berikut : Pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan seseorang sebagai individu atau anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematika melalalui berbagai kegiatan jasmani dalam rangka meningkatkan kemampuan dan keterampilan jasmani, pertumbuhan, kecerdasan dan pembentukan watak.2 Materi mata pelajaran Pendidikan Jasmani yang meliputi: pengalaman mempraktikkan keterampilan dasar permainan dan olahraga; aktivitas pengembangan; uji diri/senam; aktivitas ritmik; akuatik (aktivitas air); dan 1 http://www.pbprimaciptautama.blogspot.com/2007/06/falsafah-pendidikan-jasmani.html
2 Harsuki. Perkembangan Olahraga Terkini. (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2003), p. 26. pendidikan luar kelas (outdoor) disajikan untuk membantu peserta didik agar memahami mengapa manusia bergerak dan bagaimana cara melakukan gerakan secara aman, efisien, dan efektif. Adapun implementasinya perlu dilakukan secara terencana, bertahap, dan berkelanjutan, yang pada gilirannya peserta didik diharapkan dapat meningkatkan sikap positif bagi diri sendiri dan menghargai manfaat aktivitas jasmani bagi peningkatan kualitas hidup seseorang. Dengan demikian, akan terbentuk jiwa sportif dan gaya hidup aktif.
3. Pengertian Olahraga
Olahraga adalah suatu bentuk bermain yang terorganisir dan bersifat kompetitif. Beberapa ahli memandang bahwa olahraga semata-mata suatu bentuk permainan yang terorganisasi, yang menempatkannya lebih dekat
kepada istilah pendidikan jasmani. Akan tetapi, pengujian yang lebih cermat menunjukkan bahwa secara tradisional, olahraga melibatkan aktivitas kompetitif. Ketika kita menunjuk pada olahraga sebagai aktivitas kompetitif yang terorganisir, kita mengartikannya bahwa aktivitas itu sudah disempurnakan dan diformalkan hingga kadar tertentu, sehingga memiliki beberapa bentuk dan proses tetap yang terlibat. Peraturan, misalnya, baik tertulis maupun tak tertulis, digunakan atau dipakai dalam aktivitas tersebut, dan aturan atau prosedur tersebut tidak dapat diubah selama kegiatan berlangsung, kecuali atas kesepakatan semua pihak yang terlibat.
Dari uraian di atas maka pengertian olahraga adalah aktivitas kompetitif. Kita tidak dapat mengartikan olahraga tanpa memikirkan kompetisi, sehingga tanpa kompetisi, olahraga berubah menjadi semata-mata bermain atau rekreasi. Bermain pada satu saat menjadi olahraga, tetapi sebaliknya, olahraga tidak pernah hanya semata-mata bermain; karena aspek kompetitif teramat penting dalam hakikatnya.
4. Perbedaan Pendidikan Jasmani dengan Olahraga
Sehubungan hal di atas sesuai dengan pendapat yang disampaikan oleh Abdul Kadir Ateng, dalam mata kuliah azas dan falsafah pendidikan olahraga tentang perbedaan olahraga dan pendidikan jasmani, sebagai berikut
Komponen Pendidikan Jasmani Sport (Olahraga)
Tujuan Pendidikan keseluruhan, kepribadian dan emosional
Kinerja motorik (motor performance/kinerja gerak untukprestasi
Materi
Child centered (sesuai dengan kebutuhan anak/individualized)
Subject centered (berpusat padamateri)
Bentuk gerak Seluas gerak kehidupansehari-hari
Fungsional untuk cabang olahraga bersangkutan
Peraturan Disesuaikan dengan keperluan (tidak dibakukan)
Peraturannya baku (standar) agar dapat dipertandingkan Anak yang lamban Harus diberi perhatian ekstra Ditinggalkan/untuk milih cabang olahraga lain
Talen Skating
(TS)
Untuk mengukur kemampuan awal Untuk cari atlit berbakat
Latihannya
Mutilateral (latihan yang menyangkut semua otot) Spesifik
Partisipasi Wajib Bebas
Perbedaan pendidikan jasmani yang telah disampaikan oleh Abdul Kadir
Ateng, diperkuat oleh Syarifudin, dalam buletin pusat perbukuan, yaitu :
Komponen Pendidikan Jasmani Olahraga
Tujuan Program yang dikembangkan
sebagai sarana untuk membentuk
pertumbuhan dan perkembangan
totalitas subjek.
Program yang dikembangkan
sebagai sarana untuk
mencapai prestasi optimal.
Orientasi Aktivitas jasmani berorientasi
pada kebutuhan pertumbuhan dan
perkembangan subjek
Aktivitas jasmani berorientasi
pada suatu program latihan
untuk mencapai prestasi
optimal
Materi Materi perlakuan tidak Untuk mencapai prestasi
3 Abdul Kadir Ateng . Perkulian Azas Pendidikan Olahraga.
Komponen Pendidikan Jasmani Olahraga
dipaksakan melainkan disesuaikan dengan kemampuan anak.optimal materi latihan cenderung dipaksakan.
Lamanya perlakuan Lamanya aktivitas jasmani yang dilakukan dalam pendidikan jasmani tiap pertemuan dibatasi oleh alokasi waktu kurikulum. Disamping itu juga disesuaikan dengan kemampuan organ-organ tubuh subjek. Lamanya aktivitas jasmani yang dilakukan dalam latihan olahrag cenderung tidak dibatasi.Agar individu dapat beradaptasi dengan siklus pertandingan, aktivitas fisik dalam latihan harus dilakukan mendekati kemampuan optimal.
Frekuensi perlakuan
Frekuensi pertemuan belajar pendidikan jasmani dibatasi oleh alokasi waktu kurikulum. Namun demikian diharapkan peserta didik dapat mengulang-ulang keterampilan gerak yang dipelajari di sekolah pada waktu senggang mereka dirumah. Diharapkan mereka dapat melakukan pengulangan gerakan antara 2 sampai 3 kali/minggu. Agar dapat mencapai tujuan, latihan harus dilakukan dalam frekuensi yang tinggi. Intensitas Intensitas kerja fisik disesuaikan dengan kemampuan organ-organ tubuh subjek Intensitas kerja fisik harus mencapai ambang zona latihan. Agar subjek dapat beradaptasi dengan siklus pertandingan kelak, kadangkadang intensitas kerja fisik dilakukan melebihi kemampuan optimal. Peraturan Tidak memiliki peraturan yang baku. Peraturan dapat dibuat sesuai dengan tujuan dan kondisi pembelajaran
Memiliki peraturan permainan yang baku. Sehingga olahraga dapat dipertandingkan dan diperlombakan dengan standar yang sama pada berbagai situasi dan kondisi.
Dengan adanya perbedaan pendidikan jasmani dan olahraga secara konsep, ,maka secara sistimatis dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga akan memiliki perbedaan, hal ini sesuai dengan contoh perbedaan pembelajar pendidikan jasmani dan olahraga, yaitu :
Pendidikan Jasmani Olahraga
Berjalan
Pembelajaran berjalan pada pendidikan jasmani ditujukan pada usaha untuk membentuk sikap dan gerak tubuh yang sempurna. Pembelajaran biasanya dilakukan melalui materi baris-berbaris
Berjalan
Berjalan pada olahraga merupakan salah satu nomor dalam cabang atletik. Latihan berjalan dilakukan dengan secepat-cepatnya melalui teknik dan peraturan yang telah baku
Lari
Materi lari pada pendidikan jasmani dimaksudkanuntuk dapat mengembangkan keterampilan gerak berlari dengan baik. Berlari dapat dilakukan dalam beberpa bentuk; lari zigzag, lari kijang, lari kuda, dan beberapa bentuk lari lainnya
Lari
Lari pada olahraga merupakan salah satu nomor dalam cabang atletik. Latihan dilakukan untuk mencapai prestasi optomal. Dalam cabang atletik lari dibagi dalam beberapa nomor.
Lompat
Materi lompat dalam pendidikan jasmani dimaksudkan untuk dapat mengembangkan keterampilan gerak lompat dengan baik. Lompat dapat dilakukan dalam beberapa bentuk ; lompat harimau, lompat kodok, dan beberpa bentuk lompat lainnya.
Lompat
Lompat pada olahraga merupakan salah satu nomor dalam cabang atletik.
Latihan lompat pada cabang atletik dilakukan untuk mencapai prestasi optimal
Lempar
Materi lempar dalam pendidikan jasmani dimaksudkan untuk dapat mengembangkan ketermapilan gerak lempar dengan baik. Melempar dapat dilakukan dengan beberapa bentuk ; lempar bola, lempar sasaran, dan beberpa bentuk lempar lainnya.
Lempar
Lempar dalam olahraga merupakan salah satu nomor dalam cabang atletik. Latihan lempar pada cabang atletik dilakukan untuk mencapai prestasi optimal.
5. Tujuan Pendidikan Jasmani
Pokok-pokok Pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan Jasmani bahwa tujuan pendidikan jasmani mencakup empat komponen, yakni :
1.) komponen organik, merupakan gambaran tujuan aspek fisik dan psikomotor yang harus dicapai pada setiap proses pembelajaran, yang meliputi ; kapasitas fungsional dari organ-organ seperti daya tahan jantung
dan otot.
2.) komponen neuromuskuler merupakan gambaran tujuan yang meliputi aspek kemampuan unjuk kerja keterampilan gerak yang didasari oleh kelenturan, kelincahan, keseimbangan, dan kecepatan.
3.) komponen intelektual, merupakan gambaran yang dapat dipadankan dengan kognitif
4.) komponen emosional, merupakan gambaran yang dapat dipadankan dengan afektif
Jika mengamati tujuan mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1) Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih
2) Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik.
3) Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar
4) Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilainilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan
5) Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis
6) Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain dan lingkungan
7) Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap
yang positif.

D. TAHAPAN BELAJAR GERAK
Dalam belajar gerak, idealnya dimulai dari tahap pemahaman konsep, tahap asosiasi, dan tahap automatisasi.
1. Pemahaman Konsep (cognitive stage)
Selama cognitive stage ini, peserta didik pertama kali diperkenalkan dengan ketrampilan gerak yang baru, dan tugas untuk mengembangkan satu pemahaman persyaratan-persyaratan gerakan itu. Pemahaman konsep ini diawali dengan cara melihat suatu proses bagaimana suatu gerakan dilakukan, jadi sebaiknya guru pendidikan jasmani memperagakan terlebih dahulu suatu gerakan baru kemudian peserta didik diminta untuk melakukannya kembali. Ini berarti sebelum menyuruh peserta didik melakukan tugas unjuk kerja, mereka terlebih dahulu harus memahami secara konsep rincian unjuk kerja tersesebut, baru kemudia mereka disuruh untuk melakukannya.
2. Tahap yang kedua atau associative stage Setelah peserta didik mencoba gerakan secara berulang-ulang, maka akan muncul suatu suatu gerakan yang dirasakan sesuai secara individu, ada kemungkinan antara satu peserta didik dengan peserta didik yang lainya akan berbeda dalam menampilkan suatu unjuk kerja. Seorang peserta didik pada tahap ini menjadi merasa terikat dan memilih pada pola gerakan tertentu. Gerakan menjadi lebih konsisten, dengan sedikit kesalahan. Kemampuan melakukan gerakan dengan secara tidak langsung akan memperbaiki kekurangan seperti perhatian tentang melakukan gerakan diri sendiri, membiarkan peserta didik untuk mulai melakukan hal-hal yang baru. Hal ini juga menguntungkan dalam kemampuan untuk beradaptasi ke dalam gerakan yang disesuaikan pada berbagai kondisi lingkungan. Dalam tahap ini, kemampuan peserta didik menjadi terus meningkat tidak hanya mendeteksi penyebab kesalahannya tetapi juga tentang pengembangan strategi yang sesuai untuk kebaikan mereka. Perubahan karakter peserta didik, peran guru pada tahap ini menggeser dari satu instruksi yang mendominasi untuk praktek perancangan dengan desain constructive practice experiences.
3. Autonomous stage
Tahap akhir ini tidak semua peserta didik akan dapat mencapainya. Di dalam tahap automatisasi, penampilan mencapai tingkat kecakapan yang paling tinggi dan telah menjadi otomatis. Perhatian peserta didik selama tahap ini direlokasikan kepada pengambilan keputusan yang strategis. Sebagai tambahan, tugas-tugas ganda dapat dilaksanakan secara serempak. Akhirnya, peserta didik-peserta didik di dalam tahap ini bersifat konsisten, merasa yakin/  percaya diri, membuat sedikit; kesalahan dan secara umum dapat mendeteksi dan mengoreksi kesalahan yang mereka lakukan. kecakapan ketrampilan telah mencapai tingkatan-tingkatan yang paling tinggi, di sana tinggal untuk perbaikan, hanya peserta didik yang mempunyai talenta dalam cabang olahraga tertentu yang sampai pada tahap outomatisasi ini.

E. GAYA MENGAJAR PENDIDIKAN JASMANI, OLARAGA DAN KESEHATAN
Belajar dapat didefinisikan sebagai proses yang dapat mengantarkan pada perubahan dalam aktivitas sebagai hasil dari latihan. Di mana yang menjadi dasar dari belajar adalah perubahan yang terjadi pada tingkah laku. Perubahan tingkah laku tersebut misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, timbulnya pengertianpengertian baru, perubahan yang terjadi pada sikap, kebiasaan-keniasaan, keterampilan, kesanggupan menghargai, perkembangan sifat-sifat sosial dan emosional. Belajar yang dimaksud bukan hanya yang menyangkut kegiatan dalam berfikir untuk mendapatkan pengetahuan semata, melainkan juga yang berhubungan dengangerak tubuh, emosi dan perasaan. Yang mana apabila tahap belajar yang menekankan pada aktivitas berfikirnya maka kita golongkan kepada ranah belajar kognitif. Dan apabila belajar dengan menekankan pada aktivitas emosi dan perasaan yang kita golongkan pada ranah belajar afektif. Sementara belajar yang menekankan kepada aktivitas gerak tubuh maka kita golongkan pada ranah belajar psikomotor atau belajar gerak (motorik) Belajar adalah sebagai upaya aktif yang dilakukan oleh seseorang dalam upaya memperoleh perubahan perilaku. Perubahan perilaku yang diharapkan mencakup pengetahuan, sikap maupun keterampilan. Dan belajar yang dilakukan pada umumnya berlangsung dari yang sederhana ke yang lebih kompleks walaupun belum terdapat kesamaan di dalam langkah-langkah yang ditempuh. Belajar tak terlepas dari proses pengajaran, yang mana pengajaran itu sendiri adalah suatu proses dari penyampaian informasi yang dilakukan oleh guru ke pada peserta didik. Dalam hal ini kita membutuhkan suatu teori pengajaran yang bersifat universal, yang mana difokuskan pada kegiatan pengajaran sebagai salah
satu aspek tingkah laku manusia yang berdiri sendiri. Pembahasan mengenai struktur pengajaran harus selalu dilengkapi dengan pembahasan mengenai bagaimana kondisi yang berlangsung pada saat peserta didik sedang melakukan kegiatan belajar. Pemahaman mengenai struktur pengajaran serta struktur materi pelajaran merupakan bahan kajian yang sangat penting. Dari suatu proses pengajaran diharapkan akan dapat meningkatkan kemampuan tiap-tiap peserta didik di dalam mengemukakan gagasan pribadi masing-masing. Di sini guru harus dapat menjadi suatu jembatan yang dapat menghubungkan antara peserta didik dengan isi dari materi pelajaran serta dapat menjaga keharmonisan dari semua pihak yang terlibat di dalam kegiatan pembelajaran tersebut, baik dari guru itu sendiri, materi pelajaran maupun dengan peserta didik. Untuk itu, di dalam memilih gaya pengajaran merupakan salah satu jembatan penghubung diantara peserta didik dengan materi pelajaran. Terdapat beberapa gaya pengajaran yang dapat dipilih di dalam pelaksanaan proses pengajaran, seperti: Gaya Pemberian Perintah (Komando), Gaya Latihan, Gaya Resiporkal, Gaya Periksa Sendiri, Gaya Inklusi, Gaya Penemuan Terpimpin, dan Gaya Divergen, yang mana memiliki kekhususan sesuai dengan tujuan dari masingmaisng kegiatan yang akan dilakukan. Mosston mengemukakan spectrum gaya mengajar sebagai upaya menjembatani di antara pokok bahasan dan belajar. Spektrum ini merupakan suatu konsepsi teoritis dan suatu desain atau rancangan operasional mengenai alternatif atau kemungkinan gaya mengajar. Setiap gaya mengajar memiliki struktur tertentu yang menggambarkan peran guru, peserta didik dan mengidentifikasi tujuantujuan yang dapat dicapai jika gaya mengajar ini dilakukan. Gaya mengajar didefinisikan dengan keputusan-keputusan yang dibuat oleh guru dan dibuat oleh peserta didik di dalam episode atau peristiwa belajar yang  diberikan. Jenis-jenis keputusan dibuat oleh guru dan peserta didik yang menentukan proses dan hasil dari episode itu. Oleh karena itu, spectrum gaya mengajar ini memberikan kepada guru suatu susunan atau aturan tentang alternatif di dalam perilaku mengajar, yang memungkinkan guru mencapai lebih banyak peserta didik dan memenuhi banyak tujuan. Pelaksanaan dan penerapan gaya-gaya mengajar dalam pendidikan jasmani perlu disesuaikan dengan kondisi dan situasi belajar-mengajarnya. Dougherly dan Bonanno mengemukakan padangannya terhadap gaya-gaya mengajar dikemukakan oleh Mosston tentang karakteristik, pertimbangan-pertimbangan mengajar tertentu, dan kelebihan dan kekurangannya. Selanjutnya ia mengemukakan pendapatnya dalam melaksanakan dan menerapkan gaya mengajar tersebut, adalah:
1). Tidak ada gaya mengajar yang paling baik untuk selamanya. Setiap gaya mengajar memiliki kelebihan dan kekurangan tertentu pada gaya itu sendiri. Faktor-faktor ini harus ditekankan yang berkaitan dengan tujuan-tujuan tertentu dari pelajaran, kesiapan peserta didik untuk mengambil keputusan faktor lain.
2). Ada periode yang membuat atau menyebabkan berhenti yang harus diamati, jika gaya mengajar beralih ke arah yang lebih menekan kepada peserta didik pada akhir dari rangkaian kesatuan gaya mengajar.
3). Jika pelajaran ternyata tidak berhasil, maka dengan berhati-hati dalam menilai semua variabel atau faktor didalam situasi mengajar sebelum menyalahkan gaya mengajar itu sendiri. Jika pelajaran mengalami kegagalan, maka pertimbangan dan meninjau kembali semua variabel atau faktor sebelum menyalahkan kegagalan atau ketidaksesuaian pada gaya mengajar itu sendiri. Kita dapat meninjau kembali dan mempertanyakan seperti: 
a. Apakah peserta didik mempersiapkan untuk membuat jenis-jenis keputusan sesuai dengan
yang diharapkan? 
b. Apakah guru menyampaikan informasi persiapan yang cukup kepada peserta didik? 
c. Apakah guru melakukan gaya mengajar dengan benar? 
d. Apakah guru memberikan feedback tidak hanya berkaitan dengan penampilan fisik, tetapi juga penyesuaian dengan gaya yang digunakan? 
e. Apakah gaya mengajar sesuai dengan pelajaran?
1. Gaya Komando (The Command Style)
Metode Komando, adalah metode yang pertama dari berbagai jenis yang ada, yang dalam uraian atau isinya mempunyai karakteristik guru yang membuat semua keputusan. Tugas guru adalah membuat semua keputusan sebelum pelaksanaan, pelaksanaan, setelah pelaksanaan (evaluasi). Tugas dari peserta didik adalam mempersiapkan diri, dan mengikuti. Inti dari metode komando ini adalah arah dan hubungan yang dekat antara stimulus guru dan respon peserta didik. Stimulus ( sinyal komando) yang deberikan guru sebelumnya dalam setiap gerak peserta didik, dan murid melakukan sesuai dengan apa yang dicontohkan guru. Oleh karena itu, semua keputusan mengenai tempat, gerakan, waktu mulai, pace dan ritme, waktu berakhir, durasi, dan interval dibuat oleh guru. Sebagai unit dasar dari suatu hubungan, terutama mengenai guru dan murid dalam hasil metode komando terutama tentang outcomes ( guru dan murid merupakan objek yang utama). Saat guru membuat semua keputusan tentang anatomy dan murid mengikuti keputusan tersebut, Dalam setiap anatomi gaya, Mosston meninjau dari tiga perangkat keputusan: pra-pertemuan, selama pertemuan berlangsung, dan pasca pertemuan.
Keputusan yang dibuat guru dan yang akan diteruskan kepada peserta didik dinyatakan sebagai berikut:
G = Keputusan Guru
S = Keputusan Peserta didik
Anatomi Gaya Komando
A B
Pra-pertemuan G G
Pertemuan S S
Pasca Pertemuan G G
Ada banyak contoh dari jenis metode hubungan ini : simponi orchestra, penampilan balet, dansa folk, renang sinkronosasi, dayung, senam kesegaran jasmani, drumband, aerobic, cheerleader, paduan suara, dan banyak lagi.
Dalam metode Komando ini harus bisa menggambarkan isi dari hubungan antara guru yang membuat semua keputusan dan respon murid terhadap setiap keputusan yang diambil guru. Persamaan antara kegiatan yang dilakukan murid dan contoh yang diberikan guru adalah berkesinambungan untuk setiap penampilan gerak ; seorang guru memberikan sinyal komando untuk setiap gerakan dan murid melakukan sesuai dengan contoh, dalam hubungan ini dapat dilahat dalam kelas karate, ballet, aerobic, dan dansa folk. Kadang sinyal komando dan ritme membantu dalam memindahkan atau mentransfer kepada orang lain seperti beat music dalam aerobic, dram dalam folk dance, kemudi dalam rowing, seorang murid memimpin pemanasan dalam olahraga. Isi dari hubungan adalah sama – satu orang membuat keputusan untuk yang lainnya. Saat hubungan ini menjadi hidup maka objektiv dari metode komando ini telah dicapai. Seorang guru yang ingin menggunakan metode ini harus benar benar mengerti mengenai cara atau langkah pengambilan keputusan (uraian dari metode ini), rangkaian dari pengambilan keputusan, hubungan yang mungkin antara sinyal komando dan respon yang diharapkan, kelayakan dari penugasan, dan penampilan kemampuan dari murid (kemampuan melakukan penampilan gerak dengan kemungkinan ketepatan dan benar sesuai denagn model yang diperlihatkan atau dicontohkan)
Di dalam pendidikan jasmani, gaya pengajaran komando dapat kita temukan dalam beberapa kegiatan, yaitu:
a. “Gerakan Tunggal” yang mana dilakukan oleh sejumlah peserta didik yang sedang berdiri dengan posisi tubuh tertentu, pada tempat-tempat tertentu dalam mnedengarkan serta untuk memberikan respon atas stimulus tertentu yang dibeikan oleh gurunya.
b. Pada serangkaian gerakan yang sudah dirancang berdasarkan tahapantahapan khusus, misalnya gerakan-gerakan tertentu pada senam lantai, tarian modern, beberapa gerakan pada tarian daerah dan sebagainya. Dalam hal ini, semua gerakan dilakukan berdasarkan serangkaian perintah yang diberikan oleh guru.
c. Beberapa jenis olahraga tertentu, misalnya Senam Kesegaran Jasmani. Gerakan yang dilakukan oleh semua anggota terjadi secara teratur serta bersama-sama, karena isyarat aba-aba / perintah yang diberikan oleh salah seorang dari regu dayung tersebut yang berperan sebagai pengaturnya. Kenyataan yang terjadi, dimana beberapa aspek atau unsur yang memiliki perbedaan ternyata gerakan dapat dilakukan secara harmonis dan terkordinir. Kesemua itu terjadi karena adanya isyarat perintah yang diberikan pada saat pengajaran dengan gaya pemberian perintah tersebut. Meskipun struktur dan tujuan dari kegiatannya berbeda, namun keterampilan dan keterkaitan antara guru dengan muridnya tetap akan sama, karena kesemuanya dipengaruhi oleh pemberian isyarat perintah yang sama.
Tahapan yang harus dilalui oleh seseorang dalam rangkaian kegiatan sebenarnya adalah:
1) Tahapan Pre- Impact : penyusunan perencaan pembelajaran berupa silbus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
2) Tahapan Impact : implementasi perencanaa di dalam kegiatan belajar mengajar
3) Tahapan Post – Impact : pemberian umpan balik setelah pembelajaran Pada saat proses stimulus respon sedang berlangsung, guru mengamati penampilan setiap peserta didik serta memberikan umpan balik kepada
mereka, kemudian perikasa kembali tahapan post – impact yang ada pada anatomi dan amati gerakan-gerakan yang kurang tepat kemudian beri petunjuk untuk memperbaikinya secara lisan, baik berupa pernyatan perbaikan, pernyataan penilaian maupun pernyataan netral. Gunakan pernyataan yang cocok dengan situasi yang sedang terjadi. Bila terjadi kesalahan, gunakan umpan balik yang sifatnya memperbaiki/korektif. Bila penampilan memuaskan, berikan umpan balik penilaian, dan sebagainya.
Adapun pengorganisasiannya, guru mempunyai pilihan sebagai berikut
a. Pemberian umpan balik terhadap seluruh peserta didik.
b. Pemberian umpan balik terhadap masing-masing peserta didik secara perorangan.
c. Pemberian umpan balik selama pelaksanaan penampilan.
d. Pemberian umpan balik setelah pelaksanaan penampilan.
Pengaruh yang terjadi karena umpan balik yang diberikan guru secara masal akan dapat dibedakan dari pemberian umpan balik secara perorangan. Guru harus memuji mana diantara dua jenis umpan balik ini yang cocok untuk disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didiknya. Demonstrasi atau pemberian contoh yang diperagakan secara baik oleh seseorang akan sangat berpengaruh terhadap pengamat dan akan mempunyai implikasi psikologis yang sangat besar terhadap peserta didik. Demonstrasi atau pemberian contoh yang baik mempunyai beberapa kekuatan sebagai berikut :
a. Demonstrasi akan dapat menciptakan gambaran menyeluruh dari kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik.
b. Demonstrasi akan mengarah kepada suatu tingkat keberhasilan tertentu. Dengan pemberian demonstrasi oleh gurunya, maka setiap peserta didik akan termotivasi untuk menampilkan seluruh tugas yang diberikan kepadanya dengan kekuatan maksimal yang dimilikinya.
c. Mempengaruhi peserta didik untuk dapat mengkoordinasikan gerakangerakanya secara lembut, lengkap dan berhasil. Seseorang akan berusaha berdiri sambil menahan nafas pada saat melakukan gerakan berputar pada salah satu tarian yang dilakukannya .
d. Dapat menciptakannya suatu visualisasi mengenai bermacam-macam bagian dari kegiatan serta proses berpaduan gerakan-gerakan tertentu.
e. Dapat memperlihatkan rangakaian atau bagian-bagian dari gerakangerakan yang harus dilakukan oleh peserta didik.
f. Nampak seperti suatu hal yang mudah. Sepertinya, guru hanya perlu “memperlihatkan dan memperjelaskan”, setelah itu peserta didik tinggal menirukan gerakan yang telah dicontohkan sebelumnya.
g. Demonstrasi dapat menghemat waktu. Pada sisi lainnya, cara pemberian penjelasan jauh lebih lama, membosankan dan kadang-kadang belum bisa memberikan kejelasan mengenai gerakan-gerakan yang harus dilakukan peserta didik.
h. Dapat difokuskan pada ketepatan dari hasil penampilan gerakan yang sudah dialkukan peserta didik.
i. Dapat memberikan informasi kepada peserta didik mengenai bagaimanakah standar dari guru terhadap ketepatan dan kesempurnaan dari gerakan-gerakan yang mereka lakukan.
j. Dapat membentengi peserta didik agar mereka selalu berada pada posisi yang sempurna sesuai dengan wewenamg yang dimilikinya.
k. Dapat mengarahkan perhatian peserta didik sehingga mereka dapat memperhatikan bagian-bagian penting yang berkaitan dengan apa yang harus dilakukan oleh peserta didik dalam melakukan berbagai gerakan sampai hal-hal yang terperinci sekalipun.
l. Dapat memperlihatkan posisi start yang tepat pada beberapa jenis olahraga tertentu (missal start pada lintasa, posisi servis pada tennis dan sebagainya).
m. Dapat memberikan ilustrasi mengenai gerakan-gerakan yang sesuai dengan tujuan tertentu (langkah pertama pada lari cepat, gerakan lengan saat melalakukan servis pada bola voli, dan sebagainya).
n. Dapat menciptakan rasa kagum dan motivasi yang kuat bagi peserta didik.
o. Dapat menimbulkan gagasan mengenai keindahan dari beberapa gerakan manusia.
p. Dapat mempengaaruhi persepsi tertentu terhadap peserta didik.
Pemberian demonstrasi bukan merupakan hal yang aneh didalam pengajaran pendidikan jasmani. Hal tersebut sama dengan yang dilakukan oleh guru matematika dalam memberikan contoh atau mendemontrasikan cara-cara dalam menyelesaikan beberapa hitungannya, begitupun yang sering dilakukan
oleh guru fisika.
Bila guru telah berhasil memberikan contoh, maka peserta didik akan segera dapat melakukan gerakan yang diminta oleh gurunya. Selama ini, diakui bahwa dalam pemberian contoh merupakan salah unsur yang sangat penting dan memegang peranan yang tidak sedikit di dalam proses pembelajaran yang telah dilakukan. Dapat disimpulkan empat unsur penting, yaitu :
Langkah 1 : Demonstrasi
Langkah 2 : Penjelasan
Langkah 3 : Pelaksanaan
Langkah 4 : Pengevaluasian
2. Gaya Latihan
Dalam setiap anatomi gaya, Mosston meninjau dari tiga perangkat keputusan:
pra-pertemuan, selama pertemuan berlangsung, dan pasca pertemuan.
Keputusan yang dibuat guru dan yang akan diteruskan kepada peserta didik
dinyatakan sebagai berikut:
G = Keputusan Guru
S = Keputusan Peserta didik
Dalam Gaya Latihan, ada beberapa keputusan selama pertemuan berlangsung
yang dipindahkan dari guru ke peserta didik. Pergeseran keputusan ini
memberi peranan dan perangkat tanggung jawab baru kepada peserta didik.
a. Anatomi Gaya Latihan
A B
Prapertemuan
G G
Pertemuan S S
Pasca
Pertemuan
G G
b. Sasaran Gaya Latihan
Sasaran gaya latihan berbeda dari sasaran gaya komando, dalam
hubungannya dengan perilaku guru dan peranan peserta didik. Sasaran
yang berhubungan dengan tugas penampilan adalah :
1) Berlatih tugas-tugas yang telah diberikan sebagaimana yang telah
didemonstrasikan dan dijelaskan.
2) Memperagakan/mendemonstrasikan tugas penampilan yang diberikan.
57
3) Lamanya waktu latihan berkaitan dengan kecakapan penampilan
4) Memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang hasil (balikan) yang
diberikan guru dalam berbagai bentuk.
c. Peranan Guru dan Peserta didik
1. Peserta didik membuat keputusan selama pertemuan berlangsung
mengenai:
1) Sikap (postur)
2) Tempat
3) Urutan pelaksanaan tugas
4) Waktu untuk memulai tugas
5) Kecepatan dan irama
6) Waktu berhenti
7) Waktu sela di antara tugas-tugas
8) Memprakarsai pertanyaan-pertanyaan.
2. Peranan guru sedikit berubah dari Gaya Komando untuk menjadi Gaya
Latihan
1) Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja
sendiri
2) Memberi balikan secara pribadi kepada peserta didik
3) Memiliki kesempatan untuk meningkatkan interaksi individual
dengan setiap peserta didik.
4) Harus memberi kesempatan kepada peserta didik untuk
menyesuaikan diri dengan peranan baru mereka.
d. Implikasi Gaya Latihan
1. Satu-satunya keputusan peserta didik dalam Gaya Komando adalah
untuk bergerak sesuai dengan petunjuk. Dalam episode-episode Gaya
Latihan, peserta didik harus:
1) Mengenal / mengetahui yang diharapkan dari kelas,
58
2) Menerima pemberian tugas,
3) Membuat keputusan sambil menjalankan tugas
4) Menerima balikan
2. Sekarang disediakan waktu bagi peserta didik untuk mengatur: kapan
memulai, kapan berhenti, waktu sela antara tugas-tugas.
3. Siklus kegiatan adalah:
1) Pencapaian tugas oleh guru (peragaan, penjelasan)
2) Pelaksanaan tugas oleh peserta didik,
3) Pengamatan dan penilaian oleh guru (umpan balik).
4. Peranan baru peserta didik, keputusan-keputusan dan peranan guru
harus dijelaskan di kelas.
1) Karena perubahan dari perintah ke latihan, maka peserta didik
perlu memahami peranan mereka dan meyakininya oleh guru.
2) Perubahan menimbulkan ketegangan dan kadang-kadang
ketidakpastian, jadi harus diusahakan agar peserta didik merasa
enak dengan tanggung jawab baru mereka.
3) Gaya Latihan mungkin perlu dimulai dengan memakai satu tugas
saja dan menambah waktu bagi peserta didik untuk mengambil
keputusan dalam beberapa jam pelajaran. Dengan demikian mereka
berkesempatan untuk menyesuaikan diri dengan peranan baru
mereka.
e. Pemilihan Pokok Bahasan dan Desain Gaya Latihan
Jenis-jenis kegiatan yang dapat dipakai dalam Gaya Latihan ini adalah:
1. Tugas-tugas tetap yang dapat dilaksanakan menurut suatu model
khusus.
2. Dapat dinilai dengan kriteria benar dan tidak benar, dan pengetahuan
tentang hasil-hasil.
59
f. Merencanakan Pelajaran dalam Gaya Latihan
1. Lembaran tugas atau kartu Gaya Latihan dibuat untuk meningkatkan
efisiensi Gaya Latihan. Ini dapat didesain untuk ditempatkan didinding
atau dibuat untuk masing-masing peserta didik.
1) Membantu peserta didik untuk mengingat tugasnya (apa yang
harus dilakukan dan bagaimana melakukannya).
2) Mengurangi pengulangan penjelasan oleh guru.
3) Mengajar peserta didik tentang bagaimana mengikuti tanggung
jawab tertulis untuk menyelesaikan tugas-tugas.
4) Untuk mencatat kesempatan mengabaikan peragaan dan penjelasan
oleh peserta didik, dan kemudian guru harus menyisihkan waktu
lagi untuk mengulangi penjelasan yang telah diberikan. Manipulasi
peserta didik secara demikian akan mengurangi interaksi guru
dalam: (a) meningkatkan tanggung jawab peserta didik, (b) guru
mengarahkan perhatian peserta didik kepada keterangan di
lembaran tugas dan pada tugas-tugas lain yang harus dilakukan.
g. Desain lembaran tugas
1) Berisi keterangan yang diperlukan mengenai apa yang harus dilakukan
dan bagaimana melakukannya, dengan berfokus pada tugas.
2) Merinci tugas-tugas khusus
3) Menyatakan banyaknya tugas”
(a) Ulangan
(b) Jarak
4) Memberi arah bagi peserta didik dalam melaksanakan tugas.
5) Kriteria yang didasarkan atas hasil yang dapat diketahui dan dilihat
oleh peserta didik.
h. Rencana Keseluruhan Pelajaran
(1) Memberikan rencana keseluruhan untuk episode-episode (unit-unit)
yang akan diajarkan.
60
(2) Kalau lembaran tugas telah merinci tugas-tugas bagi peserta didik,
maka rencana pelajaran yang akan diberikan oleh guru tentang semua
keterangan yang akan diberikan oleh guru tentang semua keterangan
yang diberikan oleh guru tentang semua keterangan yang diperlukan
untuk memimpin kelas.
(3) Apabila kelak Anda akan mengajar di kelas ini Anda perlu
merencanakan pelajaran dan lembaran tugas bagi peserta didik.
(4) Lembaran tugas terlampir dapat dipakai sebagai contoh format.
(5) Komponen-komponen Rencana Pelajaran terdiri dari :
(a) Rencana: tanggal, waktu, nama: semua harus jelas.
(b) Tekanan pelajaran: harus disebutkan semua kegiatan yang akan
diajarkan.
(c) Peralatan: semua yang diperlukan dalam pelajaran.
(d) Alat bantu mengajar: apa yang dibutuhkan guru selain alat-alat
kegiatan seperti proyektor, lembaran tugas, dan lain-lain.
(e) Sasaran penampilan: dinyatakan dengan jelas dengan memakai
istilah-istilah penampilan (operasional) tentang apa yang
diharapkan untuk dapat dilakukan pada akhir pelajaran.
(f) Penilaian penampilan: bagaimana mengukur sasaran yang telah
dicapai.
(g) Nomor sasaran: Penjelasan harus sesuai dengan sasaran
penampilan yang dimaksud.
(h) Isi = kegiatan
Prosedur = peragaan, penjelasan
Organisasi = pengaturan peralatan dan peserta didik, langkahlangkah
dalam tiap episode.
Diagram = Memperlihatkan pengaturan logistik.
6) Waktu yang diperkirakan: beberapa banyak waktu yang diperlukan
untuk setiap komponen pelajaran.
61
7) Butir-butir pelajaran penting: petunjuk bagi guru tentang konsep,
pemikiran dan keterangan, untuk ditekankan dan jangan lupa untuk
dimasukkan.
3. Gaya Resiprokal
Gaya receiprocal merupakan gaya mengajar yang dikenal dengan istilah gaya
timbal balik. Pengorganisasian aktivitas fisik dilakukan secara berpasangan.
Setiap anggota dari pasangan ini mempunyai peranan masing-masing. Salah
seorang diantaranya bertindak sebagai pelaku (doer) sementara dan lainnya
sebagai pengamat (Observer). Secara skematis, proses penyampaian serta
tugas-tugas pada model pengajaran dengan gaya ini adalah sebagai berikut :
a. Pelaku (doer)
b. Pengamat (observer)
c. Guru (teacher)
Tugas dari mereka yang berperan sebagai pelaku adalah melakukan tugastugas
serta keputusan yang diminta oleh gaya/bentuk olah gerak yang
dipelajarinya. Sedangkan peran pengamat adalah memberikan umpan balik
kepada pelaku berdasarkan kriteria yang telah disampaikan dan melakukan
komunikasi dengan guru. Sedangkan peran guru berperan mengamati pelaku
(doer) dan pengamat (observer) akan tetapi komunikasi hanya dilakukan
dengan pengamat. Jadi dalam pelaksanaannya terjadi 3 unsur yang dilibatkan,
sehingga akan menghasil alur komunikasi khusus seperti yang digambarkan
sebagai berikut : Pelaku – Pengamat - Guru
Dalam gaya mengajar resiprokal, tanggung jawab memberikan umpan balik
bergeser dari guru ke teman sebaya. Pergeseran peranan ini memungkinkan:
(1) peningkatan , interaksi sosial antara teman sebaya dan, (2) umpan balik
langsung.
62
1. Anatomi Gaya Resiprokal
Di dalam perangkat keputusan sebelum pertemuan. Pengadaan umpan
balik langsung digeser kepada seorang pengamat (a)
a. Kelas diatur berpasangan dengan peranan-peranan khusus untuk setiap
partner.
1) Salah satu dari pasangan adalah “pelaku” (p)
2) Lainnya menjadi pengamat (a)
3) Guru (G) memegang peranan khusus untuk berkomunikasi dengan
pengamat.
P –––––––
G
P –––––––
–––– G
4) Peranan pelaku sama seperti dalam Gaya Latihan
5) Peranan pengamat adalah memberikan umpan balik kepada pelaku
dan berkomunikasi dengan guru.
6) Guru mengamati baik “p” maupun “a” tetapi hanya berkomunikasi
dengan “a”.
a). Guru membuat semua keputusan sebelum pertemuan.
b). Pelaku membuat keputusan selama pertemuan
c). Pengamat membuat keputusan umpan balik sesudah pertemuan
2. Sasaran Gaya Resiprokal
Sasaran gaya resiprokal ini berhubungan dengan tugas dan peranan
murid.
a. Tugas (pokok Bahasan)
1) Memberi kesempatan untuk latihan berulang kali dengan
seorang pengamat.
2) Murid menerima umpan balik langsung
3) Sebagai pengamat, murid memperoleh pengetahuan
mengenai penampilan tugas.
63
b. Peranan peserta didik
1) Memberi dan menerima umpan balik
2) Mengamati penampilan teman, membandingkan dan
mempertentangkan dengan kriteria yang ada, menyampaikan
hasilnya kepada pelaku.
3) Menumbuhkan kesabaran dan toleransi terhadap kawan.
4) Memberikan umpan balik.
3. Pelaksanaannya Gaya Resiprokal
a. Dalam gaya resiprokal ada tuntutan-tuntutan baru bagi guru dan
pengamat.
1) Guru harus menggeser umpan balik kepada peserta didik (a)
2) Pengamat harus belajar bersikap positif dan memberi umpan
balik.
3) Pelaku harus belajar menerima umpan balik dari teman sebaya,
ini memerlukan adanya rasa percaya
b. Keputusan-keputusan
1) Sebelum pertemuan: guru mambahkan lembaran desain kriteria
kepada pengamat untuk dipakai dalam gaya ini.
2) Selama pertemuan:
a). Guru menjelaskan peranan-peranan baru dari pelaku (p) dan
pengamat (a).
b). Perhatian bahwa pelaku berkomunikasi dengan pengamat
dan bukan dengan guru.
c). Jelaskan bahwa peranan pengamat adalah untuk
menyampaikan umpan balik berdasarkan kriteria yang
terdapat dalam lembaran yang diberikan.
3) Sesudah pertemuan:
a). Menerima kriteria
b). Mengamati penampilan pelaku
64
c). Membandingkan dan mempertentangkan penampilan
dengan kiteria yang diberikan.
d). Menyimpulkan apakah mengenai penampilan benar atau
salah.
e). Menyampaikan hal-hal mengenai penampilannya kepada
pelaku.
4) Peranan guru adalah :
a. Menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pengamat.
b. Berkomunikasi dengan pengamat saja.
(1) Ini memungkinkan timbulnya saling percaya antara
pelaku dan pengamat.
(2) Komunikasi guru dengan pelaku akan mengurangi
peranan pengamat.
3) Pada waktu tugas telah terlaksana, pelaku dan
pengamat berganti peranan.
4) Proses pemilihan partner dan pemantauan
keberhasilan proses adalah penting.
5) Guru bebas untuk mengamati banyak peserta didik
selama pelajaran berlangsung.
c. Pemilihan pokok bahasan:
1) Ini menentukan garis-garis pedoman untuk perilaku
pengamat.
2) Lima bagian lembaran kriteria adalah:
a) Uraian khusus mengenai tugas (termasuk
pembagian tugas secara berurutan).
b) Hal-hal yang khusus yang harus dicari selama
penampilan (kesulitan yang potensial).
c) Gambar atau sketsa untuk melukiskan tugas.
d) Contoh-contoh perilaku verbal untuk dipakai
sebagai umpan balik.
65
e) Mengingatkan peranan pengamat (apabila peserta
didik telah memahami gaya ini, bagian ini bisa
dihapuskan).
d. Pertimbangan-pertimbangan khusus untuk Gaya Resiprokal
Interaksi antara guru dan pengamat:
1) Pengamat harus dianjurkan untuk berkomunikasi
menurut kriteria yang telah disusun.
2) Pastikan bahwa pengamat memberikan umpan balik
yang akurat yang berhubungan dengan kriteria.
3) Seringkali pengamat terlalu kritis dan harus belajar
mengikuti kriteria yang telah ditentukan.
4) Guru perlu menekankan tanggung jawab positif dari
pengamat.
5) Guru perlu membantu pelaku dan pengamat untuk
berkomunikasi.
F. EVALUASI PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA DAN
KESEHATAN
Evaluasi merupakan prosedur rutin harus dilakukan. Evaluasi dalam pendidikan
jasmani adalah untuk mengukur perkembangan dan status anak, fasilitas,
peralatan, program, guru dan program harian. Proses pengukuran dikembangkan
dengan berbagai teknik dan berbagai jenis tes baik secara kuatitatif dan maupun
kualitatif. Hasilnya dapat digunakan untuk melengkapi dan memperbaiki rencana
pengajaran yang akan diimplementasikan setelah itu. Hasilnya dipresentasikan
untuk pengembangan guru, anak, dan orang tua.
Banyak alat yang dapat digunakan untuk menilai. Yang biasa digunakan dan
terukur, terpercaya adalah tes tertulis dan tes unjuk kerja (performance). Kualitas
66
unjuk kerja tidak dapat di ukur dengan objektif dan harus di nilai secara subjektif,
pengamatan yang hati-hati dari unjuk kerja dan sikap, hendaknya di buat dan di
catat dalam bentuk skala (rating scale), kartu unjuk kerja (performace chart),
catatan anekdot, ceklis, dan kuesioner. Diskusi berkelompok atau perorangan,
percakapan, pertemuan juga dapat dijadikan alat pengkuran.
Peserta didik merupakan sasaran utama dari proses pendidikan, jadi pusat
penilaian harus berpusat pada peserta didik. Tujuan secara umum dari pendidikan
jasmani, status dan kemajuan anak harus dievaluasi dalam setiap waktu tertentu.
Apakah potensi gerak setiap anak berkembang secara optimum. Sementara itu
tujuan khusus pada area pertubuhan dan perkembangan fisik, mental, sosial dan
emosi juga harus dinilai. Tujuan yang disarankan dalam penilain subjektif dan
objektif hendaknya dapat menentukan status dan tingkat pencapaian dalam area
perkembangan fisik, keterampilan/unjuk kerja, pengetahuan dan perilaku sosial.
Keseluruhan dari hal-hal yang di nilai tersebut hendaknya dapat meningkatkan
proses belajar mengajar pada setiap area tersebut diatas.
Tujuan dari penilaian tersebut bukan hanya menentukan “tingkat pencapaian
anak” namun penilaian merupakan hal yang mendasar dalam situasi pembelajaran.
Dan penilaian tersebut harus berkelanjutan dan dari waktu ke waktu, dan
merupakan proses kerjasama antara guru dan peserta didik.
Guru di depan kelas di samping melaksanakan tugas menyampaikan pengetahuan
dan memberikan pengalamam praktik berbagai aktivitas pendidikan jasmani,
seperti permainan dan olahraga, aktivitas pengembangan, uji diri/senam, ritmik,
akuatik, pendidikan luar kelas, dan materi kesehatan, juga melakukan pengukuran
tingkat keberhasilan pencapaian kompetensi dasar.
Peningkatan mutu proses pembelajaran merupakan aspek yang penting dalam
pendidikan jasmani di sekolah dasar. Istilah proses pembelajaran merupakan
interaksi dua arah antara guru dan peserta didik. Namun demikian titik sentral
67
proses pembelajaran adalah peserta didik. Tujuan pengajaran pada dasarnya
adalah mendorong peserta didik agar dapat mencapai kompetensi yang diharapkan
yang dirumuskan pada tiap kelas di sekolah dasar.
Sebagai pengajar, guru seringkali bertanya-tanya serta ingin memperoleh jawaban
yang meyakinkan terhadap pertanyaan; Apakah pembelajaran yang diberikan
sudah sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik?, Seberapa jauh
kemajuan yang diperoleh peserta didik?, Apakah kompetensi yang diharapkan
dapat dicapai? Untuk memperoleh jawaban yang memuaskan dibutuhkan
informasi yang lengkap melalui penilaian.
Bila guru mengajarkan aspek permainan dan olahraga, kemampuan dasar;
melakukan keterampilan gerak dasar, dan hasil belajarnya; melakukan
keterampilan gerak dasar manipulatif, indikatornya; lempar tangkap bola, maka
untuk mengtahui tingkat pencapaian peserta didik dilakukan penilaian terhadap
keterampilan manipulatif lempar-tangkap bola. Apakah peserta didik sudah dapat
melakukan lempar tangkap bola dengan baik, Apakah keterampilan peserta didik
sudah melekat?, Apakah peserta didik sudah dapat melakukan lempar tangkap
bola ke berbagai arah?, Apakah peserta didik sudah dapat melempar bola ke
sasaran. Dan masih banyak lagi pertanyaan lain yang dapat dimunculkan sebagai
pertanyaan untuk penilaian keterampilan lempar tangkap.
Bukti kemajuan hasil belajar peserta didik ada yang dapat dilihat hasilnya dalam
waktu relatif singkat, misalnya; dalam waktu beberapa kali pembelajaran/
semester, dan ada juga yang dapat dilihat hasilnya setelah menempuh program
jangka waktu panjang, misalnya satu tahun atau lebih. Kemajuan hasil belajar
peserta didik harus dicatat dan didokumentasikan agar dapat diperlihatkan
peningkatannya pada peserta didik, orang tua atau pihak lain yang
membutuhkannya.
68
Proses pengumpulan data yang dilakukan satu kali adalah kurang cocok untuk
melihat kemajuan belajar peserta didik secara menyeluruh, tetapi cara ini juga
dimungkinkan dilakukan untuk melihat keunggulan atau kelemahan peserta didik
dalam satu keterampilan.
1. Pengertian penilaian
Penilaian adalah proses pengumpulan informasi oleh guru tentang
perkembangan dan pencapaian kompetensi yang dilakukan anak didik melalui
berbagai tekni yang mampu mengungkapkan , membuktikan, atau
menunjukkan secara tepat bahwa kompetensi sebagai tujuan pembelajaran
telah benar-benar dikuasai dan dicapai.
Prinsip-prinsip penilaian adalah sebagai berikut:
a. Proses penilaian harus merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
proses pembelajaran, bukan bagaian terpisah dari proses pembelajaran.
b. Penilaian harus menggunakan berbagai ukuran, metoda dan kriteria yang
sesuai dengan karkateristik, dan esensi pengalaman belajar
c. Penilaian harus bersifat holistic yang mencakup semua aspek dari tujuan
pembelajaran (kognitif, afektif, dan psikomotorik)
2. Ruang Lingkup Penilaian Pendidikan Jasmani Meliputi;
Penilaian mata pelajaran pendidikan jasmani memiliki karakteristik penilaian
yang berbeda dari mata pelajaran yang lain, dimana aspek yang dinilai
meliputi aspek:
a. Penilaian terhadap anak
1) Penilaian fisik (Physical Measurement)
• Penilaian kesehatan;
• Postur (tinggi dan berat badan)
• Kebugaran fisik
2) Penilaian unjukkerja keterampilan (Skill Performance)
69
3) Penilaian pola gerak dasar (Basic Movement Patterns)
4) Penilaian keterampilan kecabangan (Spesific Sport Skill)
5) Penilaian pengetahuan (Knowledge Testing): konsep spesifik,
peraturan, prosedur atau prinsip-prinsip.
6) Penilaian sikap dan perilaku (Affective Behaviuors): mau berbagai
dalam penggunan alat, mau menerima saran dan kritik dari
teman/orang dewasa, menerima keputusan wasit, memberikan bantuan
bagi yang membutuhkan, mengenal dan menerima perbedaan/batas
kemampuan orang lain dll)
b. Penilaian terhadap program
1) Kesesuaian silabus dan satuan pelajaran dengan kurikulum
2) Status kebugaran fisik anak
3) Pencapaia keterampilan yang diperoleh anak
4) Tingkat pengetahuan anak
5) Perilaku sosial anak
6) Penempatan mata pelajaran pendidikan jasmani dalam kegiatan harian
kelas
7) Keberagaman aktivitas dalam program
8) Kesesuaian fasilatan dan peralatan
9) Kegiatan ekstrakurikuler
10) Dll
c. Penilaian fasiltas dan peralatan
Dalam periode tertentu guru diharapkan melakukan penilaian terhadap
sarana dan prasarana yang digunakan untuk pembelajaran pendidikan
jasmani, olahraga dan kesehatan. Tujuan penilainan ini adalah untuk
melihat apakah alat/fasilatas olahraga yang dipergunakan masih sesuai
dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik, apakah
alat/fasilatas memperhatikan factor keselamatan peserta didik, dan
70
bagaimana efisiensi alat/sarana olahraga yang ada di sekolah apakah
memadai atau tidak.
3. Kapan Menilai?
Penilaian dalam program ini adalah penilaian sumatif dan formatif. Penilaian
sumatif dilakukan setelah menyelesaikan beberapa aspek pembelajaran, milasnya
pada akhir satu unit pembelajaran, semester atau akhir tahun dan merupakan
pencapaian yang diperolah pada setiap kelas. Hasil atau status anak dibandingkan
dengan standar normative atau pencapaian sebelumnya. Penilaian formatif terjadi
pada setiap pembelajaran, yang berkaitan dengan tujuan khusus/jangka pendek.
Penilaian pada dasarnya adalah objektif, tapi pada jenjang sekolah dasar biasanya
lebih subjektif dan dijadikan bahan dasar untuk meramalkan perencanann
pembelajaran secara individual pada pembelajaran berikutnya.
Kedua jenis penilaian tersebut adalah penting, satu dan lainnya saling melengkapi.
Bagaimanapun, pada jenjang pendidikan dasar, khususnya sekolah dasar dan
sekolah menengah pertama, penekanannya adalah pada pengembangan dan
perbaikan keterampilan pola gerak dasar yang dijadikan bekal ke arah pola
cabang-cabang olahraga.
4. Apa Gunanya Penilaian?
Manfaat penilaian pendidikan jasmani adalah untuk mengetahui/memantau
pencapai kompetensi peserta didik dari waktu ke waktu.
Secara spesifik manfaat penilaian pendidikan jasmani adalah;
a. Untuk menafsirkan kemajuan pencapaian kompetensi dasar, yakni,
pengumpulan informasi tentang kemajuan yang diperoleh peserta didik dalam
mencapai setiap kompetesi dasar, misalnya kemajuan keterampilan dalam
permainan sepak bola.
b. Untuk memberikan umpan balik suatu program, yakni, untuk mengetahui
tingkat keberhasil guru dalam proses pembelajaran, aspek apa yang sudah
dikuasai atau yang belum dikuasai peserta didik akan terpantau. Dan hasilnya
71
dapat dijadikan sebagai sumber untuk memperbaiki metoda atau pola
pembelajaran.
c. Sebagai laporan, yakni, hasil penilaian yang diperoleh dapat dijadikan sebagai
laporan kepada peserta didik, orang tua atau pihak lain yang
membutuhkannya.
5. Bentuk-Bentuk Penilaian
Bentuk-bentuk tes yang dapat digunakan dalam penilaian pendidikan jasmani
antara lain;
a. Tes praktik/perbuatan
Tes perbuatan adalah suatu yang meminta peserta didik untuk
mendemonstrasikan atau menerapkan pengetahuan ke dalam berbagai macam
konteks atau mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Tes praktik dalam
pendidikan jasmani lebih mengutamakan pada memperagakan gerakan atau
keterampilan-keterampilan yang dipelajari peserta didik.
b. Portofolio
Portofolio merupakan koleksi karya peserta didik yang berkaitan dengan
proses dan hasil belajar peserta didik. Portofolio memuat semua pengalaman
belajar peserta didik baik bersifat proses mapun hasil. Pengumpulan data
meliputi:
1) Data perilaku interpersonal (misalnya: kerjasama, menghargai perbedaan
dan persamaan dengan orang lain)
2) Data perilaku intrapersonal (misalnya: mengendalikan diri, disiplin,
partisipasi aktitif dalam aktivitas jasmani)
3) Kinerja keterampilan
4) Kesegaran jasmani
5) Tugas-tugas khusus, dan bukti-bukti materi lain (misalnya; mengadakan
pertandingan, piala/medali/piagam)
72
Pengelolaan koleksi karya peserta didik tersebut merupakan tantangan bagi
peserta didik. Bagaimana seluruh data karya peserta didik tersebut diorganisir?
Bagaimana menyimpan data tersebut? Dan lainnya.
Langkah pertama yang harus ditempuh adalah mendiskusikannya dengan guru
yang mengajar pendidikan jasmani baik itu guru kelas maupun guru mata
pelajaran.
Pengisian format portofolio ini diisi oleh peserta didik dan guru, hasil yang
dibuat peserta didik di kros cek dengan hasil guru, kemudian ditemukan titik
temu antara pendapat peserta didik dan guru, bila ada perbedaan antara
pendapat peserta didik dan guru, maka dilakukan diskusi.
Penilaian portofolio ini dapat dijadikan sebagai salah satu data untuk
menentukan angka rapor, dan yang lebih utama dari penilaian fortofolio ini
adalah peserta didik mengetahui secara jelas tentang perkembangan aspek
pengetahuan, sikap dan psikomotornya. Dengan data tersebut baik guru
maupun peserta didik dapat melakukan perbaikan terhadap aspek yang dirasa
masih kurang.
c. Pertanyaan lisan
Pertanyaan lisan merupakan pertanyaan yang diajukan kepada peserta didik
pada saat proses pembelajaran berlangsug. Pertanyaan ini meliputi
pengetahuan tentang berbagai keterampilan dalam pendidikan jasmani.
Pertanyaan diajukan oleh guru kepada peserta didik secara langsung dan
bukan secara tertulis. Materi-materi pertanyaan hendaknya disesuaikan dengan
tingkat perkembangan kemampuan peserta didik.
Kegunaannya adalah untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta didik
terhadap teori pelaksanaan suatu keterampilan. Misalnya, keterampilan
73
berguling: yang perlu ditanyakan pada peserta didik adalah tentang cara-cara
bagaimana melakukan berguling dari sikap awal, pelaksanaan dan sikap akhir.
6. Tes kesegaran jasmani
Tes kesegaran jasmani merupakan tes yang digunakan untuk mengukur tingkat
kesegaran jasmani peserta didik. Jenis tes yang digunakan antara lain; Balke test,
Harvard Step Test, Cooper, dan Tes Kesegaran Jasmani Indonesia (TKJI).
Pelaksanaan tes ini dilakukan cukup sekali dalam satu semester/tahun.
Contoh format tes kesegaran jasmani menggunakan TKJI untuk peserta didik usia
6-9 tahun dan usia 10-12 tahun adalah sebagai berikut:
1) Materi TKJI untuk kelompok usia 6-9 tahun Putra
a) Lari cepat 30 meter
b) Gantung angkat tubuh (pull-ups) selama 30 detik
c) Baring duduk (sit-ups) selama 30 detik
d) Loncat tegak (verical jump)
e) Lari 600 meter
2) Materi TKJI untuk kelompok usia 6-9 tahun Putri
a) Lari cepat 30 meter
b) Gantung siku tekuk (chin-ups) selama 30 detik
c) Baring duduk (sit-ups) selama 30 detik
d) Loncat tegak (verticak jump)
e) Lari 400 meter
3) Materi TKJI untuk kelompok usia 10-12 tahun Putra
a) Lari cepat 40 meter
b) Gantung angkat tubuh (pull-ups) selama 30 detik
c) Baring duduk (sit-ups) selama 30 detik
d) Loncat tegak (verical jump)
e) Lari 800 meter
4) Materi TKJI untuk kelompok usia 10-12 tahun Putri
a) Lari cepat 40 meter
74
b) Gantung siku tekuk (chin-ups) selama 30 detik
c) Baring duduk (sit-ups) selama 30 detik
d) Loncat tegak (verticak jump)
e) Lari 600 meter
Langkah pelaksanaan tes adalah:
a. guru terlebih dahulu menjelaskan cara pelaksanaan dan penentukan skor
kepada peserta didik
b. guru menjelaskan arti penting kejujuran dalam pencatan hasil pengukuran
c. guru tidak membandingkan hasil tes satu peserta didik dengan peserta didik
lain
d. hasil tes kesegaran jasmani ini, didiskusikan dengan peserta didik secara
individual, tujuannya agar peserta didik mengetahui komponen kesegaran apa
yang telah memadai dan komponen apa yang perlu diperbaiki.
Nilai Kesegaran Jasmanai Indonesia untuk usia 6 – 9 tahun Putra
NILAI LARI 30
METER
GANTUNG
ANGKAT
TUBUH
BARING DUDUK
60 DETIK
LONCAT
TEGAK
LARI 600
METER
5
4
3
2
1
Sd – 6.7”
6.8” – 7.6”
7.7” – 8.7”
8.8” – 10.3”
> 10.4”
> 16
11 – 15
6 – 10
2 – 5
0 - 1
> 30
28 – 37
19 – 27
8 – 18
0 - 7
> 66
53 – 65
42 – 52
31 – 41
< 30
Sd – 3’04”
3’05” – 3’53”
3’54 – 4’46”
4’47 – 6’04”
> 6’05”
Nilai Kesegaran Jasmani Indonesia untuk usia 6 – 9 tahun Putri
Nilai Lari 30 meter Gantung Siku
Tekuk
Baring Duduk 60
detik Loncat Tegak Lari 400 meter
5
4
3
2
1
Sd – 7.7”
7.8” – 7.5”
8.8” – 8.3”
10.0” – 9.6”
> 12.0”
> 41”
22” – 40”
10” – 21”
3” – 9”
0” – 2”
> 28
19 – 27
9 – 18
3 – 8
0 - 2
> 50
39 – 49
30 – 38
20– 29
< 20
Sd – 3’06”
3’07” – 3’55”
3’56 – 4’58”
4’59 – 6’40”
> 6’41”
75
Nilai Kesegaran Jasmanai Indonesia untuk usia 10 – 12 tahun Putra
NILAI LARI 40
METER
GANTUNG
ANGKAT TUBUH
BARING DUDUK
60 DETIK
LONCAT
TEGAK
LARI 800
METER
5
4
3
2
1
Sd – 6.7”
6.8” – 7.6”
7.7” – 8.7”
8.8” – 10.3”
> 10.4”
> 16
11 – 15
6 – 10
2 – 5
0 - 1
> 30
28 – 37
19 – 27
8 – 18
0 - 7
> 66
53 – 65
42 – 52
31 – 41
< 30
Sd – 3’04”
3’05” – 3’53”
3’54 – 4’46”
4’47 – 6’04”
> 6’05”
Nilai Kesegaran Jasmani Indonesia untuk usia 10 – 12 tahun Putri
Nilai Lari 40
meter
Gantung Siku
Tekuk
Baring Duduk
60 detik
Loncat
Tegak
Lari 600
meter
5
4
3
2
1
Sd – 7.7”
7.8” – 7.5”
8.8” – 8.3”
10.0” – 9.6”
> 12.0”
> 41”
22” – 40”
10” – 21”
3” – 9”
0” – 2”
> 28
19 – 27
9 – 18
3 – 8
0 - 2
> 50
39 – 49
30 – 38
20– 29
< 20
Sd – 3’06”
3’07” – 3’55”
3’56 – 4’58”
4’59 – 6’40”
> 6’41”
NORMA TES KESEGARAN JASMANI INDONESIA
(Untuk Putera dan puteri)
No Jumlah nilai Klasifikasi Kesegaran Jasmani
1. 22 – 25 Baik sekali ( BS )
2. 18 – 21 Baik ( B )
3. 14 – 17 Sedang ( S )
4. 10 – 13 Kurang ( K )
5. 5 – 9 Kurang sekali ( KS )
76
FORMULIR TKJI
Nama
:…………………………………............................
Jenis Kelamin : Laki-laki / Perempuan *
Kelas
:……………………………………………………
Usia :………………Tahun
Nama Sekolah :……………………………………………………
No Jenis Tes Hasil Nilai Keterangan
1 Lari 30/40 meter* ………….. detik
2 Gantung
a. siku tekuk
b. angkat tubuh 30 detik
………….. detik
………….. kali
3 Baring duduk 30 detik ………….. kali
4 Loncat tegak
a. Tinggi Raihan : ……. Cm
b. Loncatan I : ……..Cm
c. Loncatan II : ……..Cm
d. Loncatan III : ……..Cm
………….. Cm
5 Lari 400m/600m/800m ………… menit
Jumlah nilai : tes 1+ tes 2 + tes 3 + tes 4 + tes 5
* coret yang tidak perlu
7. Tes keterampilan gerak
Perkembangan keterampilan gerak merupakan salah satu tujuan program
pendidikan jasmani di sekolah dasar. Evaluasi terhadap perkembangan
keterampilan gerak harus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.
Salah satu cara penilaian terhadap aspek keterampilan gerak dilakukan
selama proses pembelajaran berlangsung dengan membuat daftar cek-list.
Misalnya guru membelajarkan gerak dasar manipulatif di kelas III, pada
saat peserta didik melakukan praktik gerak dasar manipulatif (seperti;
lempar, tangkap, melambungkan, menendang) dalam permainan, guru
77
mengamati unjukkerja peserta didik terhadap komponen gerak setiap
keterampilan manipulatif sudah dikuasai sebagaian besar peserta didik?
Contoh format observasi keterampilan manipulatif
JENIS KETERAMPILAN
Melempar Menangkap Menendang
NAMA
PESERTA
DIDIK baik sedang kurang baik sedang kurang baik sedang kurang
1. Rahmat
2. Budi
3. Rusli
Dst…
Keterangan:
Keterampilan Melempar
Baik jika,
Sikap awal : berdiri dengan salah satu kaki di depan, posisi badan
menyamping arah lemparan
Gerakannya: mengayunkan salah satu lengan yang memegang bola
kebelakang diikuti memindahkan berat badan, ayunkan
lengan ke depan sambil memindahkan berat badan ke
depan, bersamaan dengan bola dilepaskan
Sedang jika, salah satu dari sikap awal atau gerakannya kurang tepat
Kurang jika, sikap awal dan gerakkannya kurang tepat
Format observasi ini diisi oleh guru pada saat proses pembelajaran
berlangsung dengan cara memberikan tanda ceklis (√) sesuai dengan
kemampuan peserta didik.
8. Penilaian sikap
Penilaian sikap merupakan pengukuran terhadap perilaku/kecenderungan
peserta didik dalam bertindak pada pembelajaran pendidikan jasmani.
78
Penilaian sikap dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung, aspke
nilai karakter yang dinilai meliputi;
1) Sportifitas
2) Tanggun Jawab
3) Partisipasi
4) Kerjasama
5) Pengendalian diri
6) Mau berbagai peralatan dalam bermain.
7) Mengikuti perintah guru.
8) Menerima saran dan kritik
9) Memiliki rasa percaya diri dalam melakukan praktik.
10) Memberikan bantuan bagi yang membutuhkan.
11) Menghargai
12) Menerima perbedaan individu dan keterbatasan orang lain, DLL
79
CONTOH: PENILAIAN PERORANGAN
KELAS : IV
ASPEK : PERMAINAN DAN OLAHRAGA
Standara Kompetensi : 1. Mempraktikkan berbagai gerak dasar permainan
dan olahraga dengan peraturan yang dimodifikasi,
dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya
Kompetensi Dasar : 1.1 Mempraktikkan gerak dasar salah satu
permainan bola kecil dengan koordinasi dan
kontrol yang baik dengan peraturan yang
dimodifikasi, serta nilai kerjasama, sportivitas,
dan kejujuran**)
MATERI POKOK : Permainan sepak bola
A.1.1Tugas : Berilah tanda (+,v,-) pada tabel berikut sesuai
dengan keadaan yang sesungguhnya, baik aspek sikap mapun keterampilan
yang kamu miliki
+ = istimewa V = dapat diterima - = perlu diperbaiki
SIKAP SEMESTER 1
A.1.1.1.1. Feb Mart Apr Mei Jun
Peserta
didik
Guru
Peserta
didik
Guru
Peserta
didik
Guru
Peserta
didik
Guru
Peserta
didik
Guru
Peserta
didik
Guru
Kerjasama + +
Respek pada
teman
√ -
Respek pada
guru
+ √
Kerja kelompok + √
Pengendalaian
diri
√ -
Tanggung
jawaab
+ -
Sportivitas + √
Motivasi + √
Perilaku √ √
KETERAMPIL
AN DASAR
SEPAK BOLA
A.1.1.1.2
Menendang √ √
80
+ = istimewa V = dapat diterima - = perlu diperbaiki
SIKAP SEMESTER 1
A.1.1.1.1. Feb Mart Apr Mei Jun
Peserta
didik
Guru
Peserta
didik
Guru
Peserta
didik
Guru
Peserta
didik
Guru
Peserta
didik
Guru
Peserta
didik
Guru
Memberhentika
n
+ -
Menggiring √ -
Mengontrol + +
Ekstrakurikuler
Komentar guru penjas:
81
BAB III
PENGINTEGRASIAN NILAI-NILAI KARKTER MELALUI MATA
PELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI, OLARAGA DAN KESEHATAN
A. POLA PENGINTEGRASIAN
Karaktermerupakan hasil dari pendidikan dalam arti luas. Karakter Indonesia
secara konseptual tercermin dalam rumusan dan kandungan sila-sila Pancasila.
Membangun karakter secara psikologis harus bertumpu pada pembangunan hati,
otak dan fisik. Dengan demikian pendidikan karakter ditekankan pada
internalisasi, personalia atau penghayatan, dan pembentukan prilaku peserta didik.
Sebagai suatu usaha yang sadar dan sistematis dalam mengembangkan potensi
peserta didik, pendidikan juga merupakan suatu usaha kolektif dari masyarakat
dan bangsa dalam mempersiapkan generasi mudanya bagi kehidupan mereka,
kelangsungan kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik di masa depan.
Oleh karena itu pendidikan harus disikapi sebagai proses pewarisan budaya dan
pembangunan bangsa dan karakter (nation and character building) bagi generasi
muda. Proses pengembangan karakter dimaksudkan sebagai wahana untuk
menjamin kelangsungan serta peningkatan kualitas kehidupan masyarakat dan
bangsa di masa mendatang. Pengembangan yang dilakukan melalui pendidikan
harus diwujudkan dalam bentuk proses pengembangan potensi diri setiap peserta
didik sebagai komponen pendukung karakter di masa mendatang. Oleh karena itu
proram pendidikan karakter haruslah berfokus pada pengembangan nilai-nilai
karakter yang mendasar dan baik atau fundamental, diperlukan, dan diinginkan
oleh masyarakat dan bangsa.
Pengembangan pendidikan karakter tersebut harus dilakukan dengan perencanaan
yang baik, pendekatan yang sesuai, dan metode belajar dan pembelajaran yang
efektif. Sesuai dengan sifat nilai, pendidikan karakter merupakan usaha bersama
sekolah dan oleh karenanya harus dilakukan secara bersama oleh semua guru,
82
semua mata pelajaran, dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya
sekolah.
Pendidikan karakter merupakan proses pendidikan yang berpusat pada
pengembangan nilai-nilai karakter pada masyarakat sekolah termasuk di dalamnya
dan paling utama peserta didik. Pengembangan nilai-nilai tersebut harus tetap
menempatkan peserta didik sebagai subjek yang aktif mempelajari,
menginternalkan, memasukkan nilai dalam sistem nilai yang sudah ada pada
dirinya, menjadikan nilai baru tersebut menjadi bagian dari kepribadian dirinya.
Secara kontekstual nilai-nilai itu terus berkembang selama mereka berada dalam
proses pendidikan di sekolah dan masyarakat, dan menjadi dasar untuk
mempelajari nilai-nilai baru setelah sepenuhnya berkarya di masyarakat. Dengan
perkataan lain, nilai-nilai karakter yang dimiliki peserta didik tersebut akan
menjadi modal dasar menjadikan mereka sebagai warganegara Indonesia yang
mampu membangun bangsa dan negaranya.
Proses pengembangan nilai-nilai yang menjadi landasan dari karakter tersebut
menghendaki suatu proses yang berkelanjutan (never ending process), dilakukan
melalui mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan. Agar
internalisasi nilai-nilai tersebut dapat dideteksi, maka dalam pengembangan
perencanaan pembelajaran berupa silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran
sistem nilai karakter harus sudah tercermin.
Lazimnya pembelajaran karakter sebagai pokok bahasan/mata pelajaran
menggunakan pendekatan penanaman nilai (value inculcation approach),
pendekatan perkembangan moral kognitif (cognitive moral development
approach), pendekatan analisis (values analysis approach), pendekatan klarifikasi
nilai (values clarification approach) dan pendekatan pembelajaran berbuat (action
learning approach). Akan tetapi dalam pedoman pengembangan karakter tidak
dimasukkan sebagai pokok bahasan tetapi terintegrasi kedalam mata pelajaran,
pengembangan diri dan budaya sekolah.
83
Prinsip yang digunakan dalam pengembangan pendidikan karakter mengusahakan
agar peserta didik mengenal dan menerima nilai-nilai karakter sebagai milik
mereka dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya melalui tahapan
mengenal pilihan, menilai pilihan, menentukan pendirian, dan selanjutnya menjadi
nilai sesuai dengan keyakinan diri. Prinsip ini dimaksudkan agar peserta didik
belajar melalui proses berpikir, bersikap dan berbuat. Hal ini dimaksudkan
bertujuan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam melakukan
kegiatan sosial dan mendorong peserta didik untuk melihat diri sendiri sebagai
makhluk sosial. Penerapannya melalui kegiatan seperti: bermain peran, simulasi,
diskusi, hubungan antar individu, dan melalui kegiatan sekolah.
Prinsip-prinsip yang digunakan dalam pengembangan pendidikan karakter:
1. Berkelanjutan mengandung makna bahwa proses pengembangan nilai-nilai
karakter merupakan sebuah proses panjang dimulai dari awal peserta didik
masuk sampai selesai dari suatu satuan pendidikan. Sejatinya, proses tersebut
dimulai dari Taman Kanak-kanak, SD/MI atau tahun pertama dan
berlangsung paling tidak sampai kelas 9 atau kelas terakhir SMP/MTs.
Pendidikan karakter di SMA/MA adalah kelanjutan dari proses yang telah
terjadi selama 9 tahun.
2. Melalui semua mata pelajaran, pengembangan diri, dan budaya sekolah
mensyaratkan bahwa proses pengembangan nilai-nilai karakter dilakukan
melalui setiap mata pelajaran, dan dalam setiap kegiatan kurikuler dan ekstra
kurikuler. Bagan 1 berikut ini memperlihatkan pengembangan nilai-nilai
tersebut melalui keempat jalur tadi:
84
MATA PELAJARAN
NILAI PENGEMBANGAN DIRI
BUDAYA SEKOLAH
Bagan 1. Pengembangan Nilai-nilai Pendidikan Karakter
Pengembangan nilai-nilai karakter melalui berbagai mata pelajaran yang telah
ditetapkan dalam Standar Isi (SI), digambarkan sebagai berikut:
NILAI
MP 1
MP 2
MP 3
MP 4
MP 5
MP6
MP .n
Bagan 2. Pengembangan Nilai-nilai Karakter
melalui Setiap Mata Pelajaran
3. Nilai tidak diajarkan tapi dikembangkan mengandung makna bahwa
materi nilai-nilai karakter bukanlah bahan ajar biasa. Artinya, nilai-nilai
tersebut tidak dijadikan pokok bahasan yang dikemukakan seperti halnya
ketika mengajarkan suatu konsep, teori, prosedur, atau pun fakta seperti
dalam mata pelajaran agama, bahasa Indonesia, PKn, IPA, IPS,
matematika, pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, seni,
keterampilan, dan sebagainya.
85
Gambar 1. Warung Kejujuran
Nilai kejujuran dikembangkan dengan praktek langsung melalui warung
kejujuran, tidak diajarkan sebagai materi atau pokok bahasan dalam mata
pelajaran. Pembeli membayar sesuai dengan harga yang ditentukan.
Materi pelajaran biasa digunakan sebagai bahan atau media untuk
mengembangkan nilai-nilai karakter. Oleh karena itu guru tidak perlu
mengubah standar kompetensi dan kompetensi dasar yang sudah ada tetapi
dengan cara mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam standar komptensi
dan kompetensi dasar yang berkaitan, guru tidak harus mengembangkan
proses belajar khusus untuk mengembangkan nilai. Suatu aktivitas belajar
dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan daalam ranah kognitif,
afektif dan psikomotor.
Konsekuensi dari prinsip ini nilai-nilai karakter tidak ditanyakan dalam
ulangan ataupun ujian. Walaupun demikian, peserta didik perlu mengetahui
pengertian dari suatu nilai yang sedang mereka tumbuhkan pada diri mereka.
Mereka tidak boleh berada dalam posisi tidak tahu dan tidak paham makna
sebuah nilai.
4. Proses pendidikan dilakukan peserta didik secara aktif. Prinsip ini
menyatakan bahwa proses pendidikan nilai-nilai karakter dilakukan oleh
86
peserta didik bukan oleh guru. Guru menerapkan prinsip ”tut wuri handayani”
dalam setiap perilaku yang ditunjukkan peserta didik.
Diawali dengan perkenalan terhadap pengertian nilai yang dikembangkan
maka guru menuntun peserta didik agar secara aktif (tanpa mengatakan
kepada peserta didik bahwa mereka harus aktif tapi guru merencanakan
kegiatan belajar yang menyebabkan siswa aktif merumuskan pertanyaan,
mencari sumber informasi dan mengumpulkan informasi dari sumber,
mengolah informasi yang sudah dimiliki, merekonstruksi data/fakta/nilai,
menyajikan hasil rekonstruksi/proses pengembangan nilai) menumbuhkan
nilai-nilai karakterpada diri mereka melalui berbagai kegiatan belajar yang
terjadi di kelas, sekolah, dan tugas-tugas di luar sekolah.
Gambar 2. Pembelajaran Aktif
B. PENYUSUNAN PERENCANAAN PEMBELAJARAN
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata
pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar,
87
materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi
waktu, dan sumber belajar.
Silabus menjawab pertanyaan
1. Apa kompetensi yang harus dikuasai siswa?
2. Bagaimana cara mencapainya?
3. Bagaimana cara mengetahui pencapaiannya?
1. Prinsip Pengembangan Silabus
a. Ilmiah: Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam
silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.
b. Relevan: Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian
materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik,
intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik.
c. Sistematis: Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara
fungsional dalam mencapai kompetensi.
d. Konsisten: Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara
kompetensi dasar, indikator, materi pokok/ pembelajaran, kegiatan
pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian.
e. Memadai: Cakupan indikator, materi pokok/ pembelajaran, kegiatan
pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk
menunjang pencapaian kompetensi dasar.
f. Faktual dan Kontekstual: Cakupan indikator, materi pokok/ pembelajaran,
kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian
memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam
kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.
g. Fleksibel: Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi
keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi
di sekolah dan tuntutan masyarakat.
h. Menyeluruh: Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi
(kognitif, afektif, psikomotor).
88
2. Unit Waktu
a. Silabus mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan
disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan untuk mata
pelajaran yaitu, untuk kelas I sampai dengan kela III menggunakan
pendekatan tematik, namun khusus untuk mata pelajaran ini dapat
dilakukan tersendiri apabila sekolah memiliki guru mata pelajaran
pendidikan jasmani dan juga harus di bicarakan atau didiskusikan pada
level sekolah, dan untuk kelas IV sampai dengan kelas VI alokasi waktu
adalah 4 jam pelajaran per minggu. Penjabaran alokasi waktu tersebut
idealnya dilaksanakan menjadi 2 kali pertemuan setiap minggunya, hal ini
ditinjau dari tingkat kemampuan fisik peserta didik SD/MI.
b. Penyusunan silabus memperhatikan alokasi waktu yang tertuang di dalam
standar isi pendidikan bagian struktur program.
c. Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus
sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang tertuang di
dalam standar isi pendidikan, namun demikian apabila guru dapat
memformulasikannya kembali, umpanya Standar Kompetensi yang
tedapat di semester 1 dapat di tarik ke semester 2 apila menurut analisa
guru tidak sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik.
3. Komponen Silabus
a. Standar Kompetensi
b. Kompetensi Dasar
c. Materi Pokok/Pembelajaran
d. Kegiatan Pembelajaran
e. Indikator
f. Penilaian
g. Alokasi Waktu
h. Sumber Belajar
89
4. Langkah Pengembangan Silabus
a. Mengkaji dan Menentukan Standar Kompetensi
b. Mengkaji dan Menentukan Kompetensi Dasar
c. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran
d. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran
e. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi
f. Menentukan Jenis Penilaian
g. Menentukan Alokasi Waktu
h. Menentukan Sumber Belajar
Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Mengkaji standar kompetensi mata pelajaran dengan memperhatikan halhal
berikut:
a. Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan
materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di Standar Isi,
sekolah dapat memformulaskan kembali dengan dianalisis berdasarkan tingkat
perkembangan peserta didik di sekolah masing-masing dan dipetakan ke
dalam perencanaan semester.
b. Keterkaitan antar standar kompetensi dan standar kompetensi dalam mata
pelajaran;
c. Keterkaitan standar kompetensi dan standar kompetensi antar mata pelajaran.
Mengkaji kompetensi dasar mata pelajaran dengan memperhatikan hal-hal
berikut:
a. Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan
materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada dalam Standar Isi,
sekolah dapat memformulaskan kembali dengan dianalisis berdasarkan tingkat
perkembangan peserta didik di sekolah masing-masing dan dipetakan ke
dalam perencanaan semester.
b. Keterkaitan antar kompetensi dasar dan kompetensi dasar dalam mata
pelajaran;
90
c. Keterkaitan kompetensi dasar dan kompetensi dasar antar mata pelajaran.
Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi Dasar
a. Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh
perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan
keterampilan
b. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, satuan
pendidikan, dan potensi daerah
c. Cakupan pengembangan indikator terdiri dari : aspek kognitif, psikomotor dan
afektif.
d. Digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.
e. Indikator menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur dan/atau
diobservasi
f. Setiap kompetensi dasar dikembangkan menjadi beberapa indikator (lebih dari
dua)
g. Keseluruhan indikator dalam satu kompetensi dasar merupakan tanda-tanda,
perilaku, dan lain-lain untuk pencapaian kompetensi yang merupakan
kemampuan bersikap, berpikir, dan bertindak secara konsisten
Mengidentifikasi materi pokok:
Dalam pemilihan materi pokok, guru diharapkan mempertimbangkan:
a. Potensi peserta didik;
b. Relevansi dengan karakteristik daerah;
c. Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual
peserta didik;
d. Kebermanfaatan bagi peserta didik;
e. Struktur keilmuan;
f. Aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;
g. Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan;
h. Alokasi waktu untuk satu kompetensi dasar ;
91
Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang
melibatkan proses mental, kognitif dan fisik melalui interaksi antar peserta didik,
peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka
pencapaian kompetensi. Pengalaman belajar dimaksud dapat terwujud melalui
pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegaitan pembelajaran:
1. Memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan peserta didik secara
berurutan mengacu kepada indikator untuk mencapai kompetensi dasar
2. Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep
materi pembelajaran
3. Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua
unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar peserta
didik yaitu kegiatan siswa dan materi.
Menentukan Jenis Penilaian
Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan
menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan
secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang
bermakna dalam pengambilan keputusan.
Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis,
pengamatan kinerja, , dan penilaian diri.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menetapkan penilaian yang tertuang di
dalam silabus adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik, yang dilakukan
berdasarkan indikator
b. Menggunakan acuan kriteria
c. Menggunakan sistem penilaian berkelanjutan
92
d. Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut
e. Sesuai dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam kegiatan
pembelajaran
Menentukan Alokasi Waktu Setiap Kompetensi Dasar
Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah
minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu.
Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata
untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang
beragam.
Salah satu cara yang dapat diterapkan dalam menghitung jumlah alokasi waktu
setiap kompetensi dasar adalah:
1. Hitung jumlah minggu efektif dalam satu semester
2. Hitung seluruh jumlah kompetensi dasar yang akan di ajarkan di dalam satu
semester
3. Alokasi waktu per minggu
Contoh: Penetapan jumlah alokasi waktu setiap Kompetensi Dasar pada Kelas IV
semester 1
Minggu efektif dalam satu semester = 18 minggu
Jumlah Kompetensi Dasar dalam satu semester = 11
Jam pelajaran per minggu = 4 jam pelajaran
Maka, hasilnya adalah: 18 : 11 = 1,6 x 4 = 6,4
Selanjutnya baru dianalisis dengan keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan
tingkat kepentingan kompetensi dasar.
Alokasi waktu untuk Standar Kompetensi merupakan hasil penjumlahan dari
alokasi setiap kompetensi dasar yang terdapat dalam standar kompetensi.
93
Menentukan Sumber Belajar
Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk
kegiatan pembelajaran. Sumber belajar dapat berupa media cetak dan elektronik,
nara sumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.
Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi
dasar serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator
pencapaian kompetensi.
Contoh Standar Kompetesi dan Kompetensi Dasar
Kelas IV, Semester 1
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Mempraktikkan gerak dasar ke dalam
permainan sederhana dan olahraga serta
nilai-nilai yang terkandung didalamnya
1.1 Mempraktikkan gerak dasar dalam permainan bola
kecil sederhana dengan peraturan yang
dimodifikasi, serta nilai kerjasama tim,
sportivitas, dan kejujuran**)
1.2 Mempraktikkan gerak dasar atletik sederhana,
serta nilai semangat, percaya diri dan disiplin**)
1.3. Mempraktikkan gerak dasar permainan bola besar
sederhana dengan peraturan yang dimodifikasi,
serta nilai kerja sama, sportivitas, dan
kejujuran**)
2. Mempraktikkan latihan untuk
meningkatkan kebugaran dan nilainilai
yang terkandung di dalamnya
2.1 Mempraktikkan aktivitas permainan sederhana
untuk melatih daya tahan dan kekuatan otot,
serta nilai kerja keras, dan disiplin
2.2 Mempraktikkan aktivitas permainan untuk melatih
kelenturan dan koordinasi, serta nilai kerja keras,
dan disiplin
94
C. CONTOH SILABUS
Nama Sekolah : SDN ................
Kelas / Semester : 4 (empat) / 1 (satu)
Mata Pelajaran : Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan
Standar Kompetensi : 1. Mempraktikkan gerak dasar ke dalam
permainan sederhana dan olahraga serta nilai-nilai yang terkandung
didalamnya
KOMPETENSI
DASAR
MATERI
POKOK/
PEMBELA
JARAN
KEGIATAN
PEMBELAJARAN
INDIKATOR PENILA
IAN
ALOKASI
WAKTU
ALAT &
SUMBER
BELAJAR
1.1 Mempraktikkan
gerak dasar
dalam
permainan bola
kecil sederhana
dengan
peraturan yang
dimodifikasi,
serta nilai
kerjasama tim,
sportivitas, dan
kejujuran**)
Permain
Kasti Tes
Tertulis/
lisan
Kognitif:
• Dapat
menyebutkan
komponen
gerakan
dalam
permainan
kasti
• Dapat
menyebutkan
manfaat
permainan
kasti
terhadap
kesehatan
tubuh
Afektif:
• Menerapkan
nilai-nilai
kerjasama,
sportivitas,
dan
kejujuran
dalam
bermain
• Guru memberikan
penjelasan tentang
komponen gerakan
permanan kasti, seperti
melempar, menangkap,
melambungka dan berlari
kemudia memberikan
penjelasan otot-otot yang
dominan dalam gerakan
tersebut
• Peserta didik
mendiskusikan manfaat
permainan kasti terhadap
kesehatan
• Guru memberikan contoh
pelaksanaan komponen
gerakan dalam permainan
kasti
• Peserta didik melakukan
aktivitas melambungkan
bola secara individu dan
berpasangan
• Peserta didik melakukan
aktivitas melempar dan
menangkap bola secara
berpasangan dan dalam Psikomotor:
Tes
Tertulis/l
isan
Observas
i
Unjuk
Kerja
Unjuk
Kerja
Unjuk
Kerja
Unjuk
8 jam
pelajaran
• Bola Kasti
• Tongkat
pemukul
• Pluit
• Buku
Paket
Siswa
95
kelompok kecil
• Peserta didik melakukan
aktivitas memukul bola
yang dilambungkan sendiri
dan yang dilambungkan
orang lain
• Peserta didik melakukan
aktivitas lari mengikut abaaba
• Dapat
melambungk
an bola
• Dapat
melemparka
n bola ke
berbagai
arah
• Dapat
menangkap
bola dari
berbagai
arah
• Peserta didik bermain kasti
di bawah bimbingan guru
• Dapat
memukul
bola yang
dilambungka
n dari
berbagai
arah dan
jarak.
• Dapat berlari
mengikuti
aba-aba
• Dapat
bermain
kasti
D. CONTOH RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Mata Pelajaran : Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan
Kelas/Semester
: 4 ( Empat )/ I (Satu )
Pertemuan ke : I ( Satu ) sampai dengan 5 ( Lima )
Alokasi Waktu : 10 x 35 Menit
Kerja
Unjuk
Kerja
Unjuk
Kerja
96
Standar Kompetensi: 1. Mempraktikkan gerak dasar ke dalam permainan
sederhana dan olahraga serta nilai-nilai yang terkandung didalamnya
Kompetensi Dasar: 1. 1 Mempraktikkan gerak dasar dalam permainan bola
kecil sederhana dengan peraturan yang dimodifikasi, serta nilai kerjasama
tim, sportivitas, dan kejujuran**)
Indikator:
Kognitif:
• Dapat menyebutkan komponen gerakan dalam permainan kasti
• Dapat menyebutkan manfaat permainan kasti terhadap kesehatan tubuh
Afektif:
• Dapat bekerjasama dalam bermain
• Sportif dalam bermain
Psikomotor:
• Dapat melambungkan bola
• Dapat melemparkan bola ke berbagai arah
• Dapat menangkap bola dari berbagai arah
• Dapat memukul bola yang dilambungkan dari berbagai arah dan jarak.
• Dapat berlari mengikuti aba-aba
• Dapat bermain kasti
I. Tujuan Pembelajaran:
Kognitif:
• Dapat menyebutkan komponen gerakan dalam permainan kasti
• Dapat menyebutkan manfaat permainan kasti terhadap kesehatan tubuh
Afektif:
• Dapat bekerjasama dalam bermain
• Sportif dalam bermain
Psikomotor:
• Dapat melambungkan bola
97
• Dapat melemparkan bola ke berbagai arah
• Dapat menangkap bola dari berbagai arah
• Dapat memukul bola yang dilambungkan dari berbagai arah dan jarak.
• Dapat berlari mengikuti aba-aba
• Dapat bermain kasti
II. Materi Ajar (Materi Pokok):
• Permainan kasti
II. Metode Pembelajaran:
• Ceramah
• Gaya Komando
• Penugasan
IV. Langkah-langkah
Pembelajaran
:
A. Kegiatan Awal:
• Siswa dibariskan menjadi empat barisan
• Mengecek kehadiran siswa
• Menegur siswa yang tidak berpakaian lengkap
• Melakukan gerakan pemanasan berupa lari keliling lapangan,
menggerakkan anggota tubuh dimulai dari kepala hingga ke kaki.
98
B. Kegiatan Inti:
Pertemuan 1
• Melakukan gerakan melambungkan/melempar bola tanpa bola dengan
hitungan
• Melambungkan bola dengan berbagai arah dan kecepatan berpasangan
atau perorangan
• Melakukan lempar tangkap dari berbagai arah dan kecepatan :
melempar bola lurus, melempar bola lambung, melembar menyusur
tanah dilakukan secara berpasangan
Pertemuan 2
• Melakukan gerakan memukul bola dengan hitungan
• Memukul bola yang di lambungkan sendiri
• Memukul bola yang dilambungkan oleh orang lain
Pertemuan 3
• Membagi kelompok yang seimbang untuk persiapan main
• Bermain kasti dengan peraturan yang dimodifikasi
• Menjelaskan dan mempraktekkan peraturan main yang terdapat dalam
permainan kasti
Pertemuan 4
• Bermain kasti / pemantapan
• Melakukan umpan balik terhadap seluruh komponen keterampilan
permainan kasti
Selama pembelajaran berlangsung guru megamati nilai-nilai kerjasama,
sportivitas dan kejujuran peserta didik
C. Kegiatan Akhir / Penenangan
• Siswa di kumpulkan mendengarkan penjelasan dari guru tentang materi
yang telah dilakukan/ diajarkan
• Memperbaikai tentang kesalahan-kesalahan gerakan dan tekhnik dalam
permainan kasti
99
V. Alat dan Sumber Belajar:
• Buku Penjaskes kls. 4
• Diktat permainan bola kecil
• Lapangan
• Pemukul kasti
• Bola kasti
• Tiang hinggap
• Scoring board/keset
• Pluit
• Kapur line/tali
VI. Penilaian:
Penilaian proses terhadap ujuk kerja keterampilan komponen
gerakan permainan kasti
Dalam penilaian proses ini guru harus dibekali dengan daftar chek,
daftar ini dipegang oleh guru selama proses pembelajaran
berlangsung. Kiat yang lebih mudah untuk melakukan penilaian
proses ini adalah hanya mengamti peserta didik yang menonjol
keteramplannya dan yang kemampuannya rendah, sedangkan
peserta didik yang memiliki keterampilan rerata cukup di pantau.
Contoh daftar chek list
100
Format Penilaian Permainan Kasati
(Menggunakan Daftar Tanda Cek)
Nama peserta didik: ________ Kelas: _____
No. Aspek Yang Dinilai Baik Tidak
baik
1. Melambungkan bola
2. Melemparkan bola
3. Menangkap bola
4. Memukul bola
5. Berlari mengikuti aba-aba
6. Kerjasama selama bermain kasti
Skor yang dicapai
Skor maksimum 5
101
B A B IV
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR PENDIDIKAN JASMANI, OLARAGA
DAN KESEHATAN
A. PENGERTIAN BAHAN AJAR
Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) secara garis besar
terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa
dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Secara
terperinci, jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan (fakta, konsep,
prinsip, prosedur), keterampilan, dan sikap atau nilai.
Termasuk jenis materi fakta adalah nama-nama obyek, peristiwa sejarah,
lambang, nama tempat, nama orang, dsb. (Ibu kota Negara RI adalah Jakart;
Negara RI merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945). Termasuk materi konsep
adalah pengertian, definisi, ciri khusus, komponen atau bagian suatu obyek
(Contoh kursi adalah tempat duduk berkaki empat, ada sandaran dan lenganlengannya).
Termasuk materi prinsip adalah dalil, rumus, adagium, postulat, teorema, atau
hubungan antar konsep yang menggambarkan “jika..maka….”, misalnya “Jika
logam dipanasi maka akan memuai”, rumus menghitung luas bujur sangkar adalah
sisi kali sisi.
Materi jenis prosedur adalah materi yang berkenaan dengan langkah-langkah
secara sistematis atau berurutan dalam mengerjakan suatu tugas. Misalnya
langkah-langkah mengoperasikan peralatan mikroskup, cara menyetel televisi.
Materi jenis sikap (afektif) adalah materi yang berkenaan dengan sikap atau nilai,
misalnya nilai kejujuran, kasih sayang, tolong-menolong, semangat dan minat
belajar, semangat bekerja, dsb. Untuk membantu memudahkan memahami
102
keempat jenis materi pembelajaran aspek kognitif tersebut, perhatikan tabel di
bawah ini.
Ditinjau dari pihak guru, materi pembelajaran itu harus diajarkan atau
disampaikan dalam kegiatan pembelajran. Ditinjau dari pihak siswa bahan ajar itu
harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi dan kompetensi
dasar yang akan dinilai dengan menggunakan instrumen penilaian yang disusun
berdasar indikator pencapaian belajar.
B. PRINSIP-PRINSIP PEMILIHAN BAHAN AJAR
Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan ajar atau
materi pembelajaran. Prinsip-prinsip dalam pemilihan materi pembelajaran
meliputi prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan.
Prinsip relevansi artinya keterkaitan. Materi pembelajaran hendaknya relevan atau
ada kaitan atau ada hubungannya dengan pencapaian standar kompetensi dan
kompetensi dasar. Sebagai misal, jika kompetensi yang diharapkan dikuasai siswa
berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa
fakta atau ghbahan hafalan.
Prinsip konsistensi artinya keajegan. Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai
siswa empat macam, maka bahan ajar yang harus diajarkan juga harus meliputi
empat macam. Misalnya kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa adalah
pengoperasian bilangan yang meliputi penambahan, pengurangan, perkalian, dan
pembagian, maka materi yang diajarkan juga harus meliputi teknik penjumlahan,
pengurangan, perkalian, dan pembagian.
Prinsip kecukupan artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai
dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak
boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit akan
kurang membantu mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar.
103
Sebaliknya, jika terlalu banyak akan membuang-buang waktu dan tenaga yang
tidak perlu untuk mempelajarinya
Dengan lebih spesifi prinsip pengembangan bahan ajar adalah seperti berikut ini:
1. Bahan ajar relevan dengan tingkat perkembangan gerak siswa.
2. Bahan ajar dihayati melalui kegiatan berpikir, melakukan aktivitas fisik.
3. Bahan ajar bersumber dari rujukan yang terpercaya. Sumber bahan ajar itu
berupa buku teori atau buku pelajaran siswa.
4. Bahan ajar dihayati, dipahami, dan dikuasai bukan hanya secara individual
tetapi juga melalui kerja sama dengan teman, keluarga, lingkungan sosial,
maupun dengan guru secara kooperatif. Oleh karena itu, penguasaan materi
pembelajaran bukan secara kompetitif tetapi melalui kerja sama dengan
berbagai pihak secara kooperatif.
5. Bahan ajar harus sistemis. Artinya, ada hubungan antara materi pembelajaran
yang satu dengan yang.
6. Bahan ajar harus bermakna. Artinya, materi pembelajaran itu bermanfaat bagi
siswa secara konkret.
7. Bahan ajar harus menarik. Artinya, isi materi pembelajaran itu beserta
penataannya sesuai dengan tingkat perkembangan maupun minat siswa.
8. Bahan ajar terukur. Artinya, ketika murid mempelajari materi pembelajaran
dapat memahami perkembangan belajarnya dan dapat melakukan usaha
pengembangan diri dengan atau tanpa bantuan orang lain.
C. LANGKAH-LANGKAH PEMILIHAN BAHAN AJAR
Sebelum melaksanakan pemilihan bahan ajar, terlebih dahulu perlu diketahui
kriteria pemilihan bahan ajar. Kriteria pokok pemilihan bahan ajar atau materi
pembelajaran adalah standar kompetensi dan kompetensi dasar. Hal ini berarti
bahwa materi pembelajaran yang dipilih untuk diajarkan oleh guru di satu pihak
104
dan harus dipelajari siswa di lain pihak hendaknya berisikan materi atau bahan
ajar yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi
dasar. Dengan kata lain, pemilihan bahan ajar haruslah mengacu atau merujuk
pada standar kompetensi. Setelah diketahui kriteria pemilihan bahan ajar,
sampailah kita pada langkah-langkah pemilihan bahan ajar. Secara garis besar
langkah-langkah pemilihan bahan ajar meliputi pertama-tama mengidentifikasi
aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar yang
menjadi acuan atau rujukan pemilihan bahan ajar. Langkah berikutnya adalah
mengidentifikasi jenis-jenis materi bahan ajar. Langkah ketiga memilih bahan
ajar yang sesuai atau relevan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar
yang telah teridentifikasi tadi. Terakhir adalah memilih sumber bahan ajar.Secara
lengkap, langkah-langkah pemilihan bahan ajar dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi
dan kompetensi dasar.
Sebelum menentukan materi pembelajaran terlebih dahulu perlu diidentifikasi
aspek-aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dipelajari
atau dikuasai siswa. Aspek tersebut perlu ditentukan, karena setiap aspek
standar kompetensi dan kompetensi dasar memerlukan jenis materi yang
berbeda-beda dalam kegiatan pembelajaran. Setiap aspek standar kompetensi
tersebut memerlukan materi pembelajaran atau bahan ajar yang berbeda-beda
untuk membantu pencapaiannya.
2. Mengidentifikasi jenis-jenis materi pembelajaran
Sejalan dengan berbagai jenis aspek standar kompetensi, materi pembelajaran
juga dapat dibedakan menjadi jenis materi aspek kognitif, afektif, dan
psikomotorik. Materi pembelajaran aspek kognitif secara terperinci dapat
dibagi menjadi empat jenis, yaitu: fakta, konsep, prinsip dan prosedur
(Reigeluth, 1987).
105
1) Materi jenis fakta adalah materi berupa nama-nama objek, nama tempat,
nama orang, lambang, peristiwa sejarah, nama bagian atau komponen
suatu benda, dan lain sebagainya.
2) Materi konsep berupa pengertian, definisi, hakekat, inti isi.
3) Materi jenis prinsip berupa dalil, rumus, postulat adagium, paradigma,
teorema.
4) Materi jenis prosedur berupa langkah-langkah mengerjakan sesuatu secara
urut, misalnya langkah-langkah menelpon, cara-cara pembuatan telur asin
atau cara-cara pembuatan bel listrik.
5) Materi pembelajaran aspek afektif meliputi: pemberian respon,
penerimaan (apresisasi), internalisasi, dan penilaian.
6) Materi pembelajaran aspek motorik terdiri dari gerakan awal, semi rutin,
dan rutin.
3. Memilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi dan
kompetensi dasar.
Pilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi yang telah
ditentukan. Perhatikan pula jumlah atau ruang lingkup yang cukup memadai
sehingga mempermudah siswa dalam mencapai standar kompetensi. Berpijak
dari aspek-aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah
diidentifikasi, langkah selanjutnya adalah memilih jenis materi yang sesuai
dengan aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi
dasar tersebut. Materi yang akan diajarkan perlu diidentifikasi apakah
termasuk jenis fakta, konsep, prinsip, prosedur, afektif, atau gabungan lebih
daripada satu jenis materi.
Dengan mengidentifikasi jenis-jenis materi yang akan diajarkan, maka guru
akan mendapatkan kemudahan dalam cara mengajarkannya. Setelah jenis
materi pembelajaran teridentifikasi, langkah berikutnya adalah memilih jenis
materi tersebut yang sesuai dengan standar kompetensi atau kompetensi dasar
yang harus dikuasai siswa. Identifikasi jenis materi pembelajaran juga penting
106
untuk keperluan mengajarkannya. Sebab, setiap jenis materi pembelajaran
memerlukan strategi pembelajaran atau metode, media, dan sistem
evaluasi/penilaian yang berbeda-beda. Misalnya metode mengajarkan materi
fakta atau hafalan adalah dengan menggunakan “jembatan keledai”,
“jembatan ingatan” (mnemonics), sedangkan metode untuk mengajarkan
prosedur adalah “demonstrasi”. Cara yang paling mudah untuk menentukan
jenis materi pembelajaran yang akan diajarkan adalah dengan jalan
mengajukan pertanyaan tentang kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa.
Dengan mengacu pada kompetensi dasar, kita akan mengetahui apakah materi
yang harus kita ajarkan berupa fakta, konsep, prinsip, prosedur, aspek sikap,
atau psikomotorik. Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan penuntun untuk
mengidentifikasi jenis materi pembelajaran:
1) Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa mengingat
nama suatu objek, simbul atau suatu peristiwa? Kalau jawabannya “ya”
maka materi pembelajaran yang harus diajarkan adalah “fakta”.
Contoh:Nama-nama ibu kota kabupaten, peristiwa sejarah, nama-nama
organ tubuh manusia.
2) Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa kemampuan
untuk menyatakan suatu definisi, menuliskan ciri khas sesuatu,
mengklasifikasikan atau mengelompokkan beberapa contoh objek sesuai
dengan suatu definisi ? Kalau jawabannya “ya” berarti materi yang harus
diajarkan adalah “konsep”. Contoh :Seorang guru menunjukkan beberapa
tumbuh-tumbuhan kemudian siswa diminta untuk mengklasifikasikan atau
mengelompokkan mana yang termasuk tumbuhan berakar serabut dan
mana yang berakar tunggang.
3) Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa menjelaskan
atau melakukan langkah-langkah atau prosedur secara urut atau membuat
sesuatu ? Bila “ya” maka materi yang harus diajarkan adalah
“prosedur”.Contoh : Langkah-langkah mengatasi permasalahan dalam
mewujudkan masyarakat demokrasi; langkah-langkah cara membuat
107
magnit buatan; cara-cara membuat sabun mandi, cara membaca sanjak,
cara mengoperasikan komputer, dsb.
4) Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa menentukan
hubungan antara beberapa konsep, atau menerapkan hubungan antara
berbagai macam konsep ? Bila jawabannya “ya”, berarti materi
pembelajaran yang harus diajarkan termasuk dalam kategori “prinsip”.
Contoh :Hubungan hubungan antara penawaran dan permintaan suatu
barang dalam lalu lintas ekonomi. Jika permintaan naik sedangkan
penawaran tetap, maka harga akan naik. Cara menghitung luas persegi
panjang. Rumus luas persegi panjang adalah panjang dikalikan lebar.
5) Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa memilih
berbuat atau tidak berbuat berdasar pertimbangan baik buruk, suka tidak
suka, indah tidak indah? Jika jawabannya “Ya”, maka materi pembelajaran
yang harus diajarkan berupa aspek afektif, sikap, atau nilai.Contoh:Ali
memilih mentaati rambu-rambu lalulintas meskpipun terlambat masuk
sekolah setelah di sekolah diajarkan pentingnya mentaati peraturan
lalulintas.
6) Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa melakukan
perbuatan secara fisik? Jika jawabannya “Ya”, maka materi pembelajaran
yang harus diajarkan adalah aspek motorik.Contoh:Dalam pelajaran
lompat tinggi, siswa diharapkan mampu melompati mistar 125 centimeter.
Materi pembelajaran yang harus diajarkan adalah teknik lompat tinggi.
4. Memilih sumber bahan ajar
Setelah jenias materi ditentukan langkah berikutnya adalah menentukan
sumber bahan ajar. Materi pembelajaran atau bahan ajar dapat kita temukan
dari berbagai sumber seperti buku pelajaran, majalah, jurnal, koran, internet,
media audiovisual, dsb.
Jenis bahan ajar terdiri atas:
1. Bahan cetak: hand out, buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet,
108
wallchart.
2. Audio Visual: video/film,VCD
3. Audio: radio, kaset, CD audio
4. Visual: foto, gambar, model/maket.
5. Multi Media: CD interaktif, computer Based, Internet
E. KRITERIA BAHAN AJAR YANG BAIK
1. Aspek Bahasa
a. Sesuai dengan perkembangan berpikir siswa
Bahasa yang digunakan untuk menjelaskan konsep, pola, contoh, ilustrasi,
tugas, soal, dan latihan, baik yang abstrak maupun konkret, mudah dipahami
oleh peserta didik. Hal ini ditandai oleh pilihan kata dan struktur kalimat
yang sesuai dengan kemampuan siswa untuk memahaminya, termasuk
jumlah kata dalam satu kalimat dan jumlah kalimat dalam satu paragraf.
Sebagai conroh, panjang kalimat untuk kelas I dan II terdiri atas 3—5 kata;
kelas III dan IV terdiri atas 3—9 kata; kelas V dan VI terdiri atas 3—12
kata (Hal ini terkecuali untuk kalimat-kalimat perintah/seru), panjang
paragraf untuk kelas I dan II terdiri atas 3—5 kalimat; kelas III dan IV
terdiri atas 3—8 kalimat; dan kelas V dan VI terdiri atas 5—12 kalimat.
b. Sesuai dengan Tingkat Perkembangan Sosial-Emosional Siswa
Bahasa yang digunakan untuk menjelaskan konsep, pola, contoh, ilustrasi,
tugas, soal, dan latihan, baik yang abstrak maupun konkret, tidak mengarah
pada SARA, kekasaran, pornografi, pelecehan, bias gender, dan sebagainya
yang dapat mengganggu dan mempengaruhi pikiran dan perasaan peserta
didik secara negatif.
c. Keterpahaman Pesan
Kegiatan Pendidikan Jasmani, Olaraga, dan Kesehatan yang disajikan berisi
aktivitas fisik , dan mental dan disesuaikan dengan tingkat kemampuan
109
berpikir peserta didik. Misalnya, jumlah kata dalam satu kalimat, jumlah
kalimat dalam satu paragraf, dan jumlah paragraf dalam satu wacana akan
mempengaruhi tingkat kekomunikatifan pesan.
d. Ketepatan Bahasa dan Penyajian
Menggunakan bahasa sesuai dengan tata bahasa baku bahasa Indonesia dan
Pedoman EYD (Pedoman Ejaan yang Disempurnakan), kecuali untuk kelas
1 dan 2 yang mungkin belum mempelajari tanda baca secara cermat.
d. Menggunakan Istilah dan Simbol yang Baku
Penggunaan bahasa sesuai dengan tata bahasa baku bahasa Indonesia dan
Pedoman EYD (Pedoman Ejaan yang Disempurnakan), kecuali untuk kelas
1 dan 2 yang mungkin belum mempelajari tanda baca secara cermat.
e. Keutuhan Makna dalam Bab
Pesan atau materi yang disajikan dalam satu bab mencerminkan kesatuan
tema.
f. Keutuhan Makna dalam Subbab
Pesan atau materi yang disajikan dalam satu subbab mencerminkan kesatuan
subtema.
g. Keutuhan Makna dalam Paragraf
Pesan atau materi yang disajikan dalam satu paragraf memuat satu pokok
pikiran.
h. Kebertautan Antarbab dalam Satu Bahan Ajar
Penyampaian pesan antara satu bab dengan bab lain dalam satu bahan ajar
mencerminkan keruntutan dan keterkaitan isi (kesinambungan).
110
i. Kebertautan Antarsubbab dalam Satu Bab
Penyampaian pesan antara satu subbab dengan subbab lain dalam satu bab
mencerminkan kesatuan tema, kesatuan subtema dalam subbab dan kesatuan
pokok pikiran dalam satu paragraf.
j. Kebertautan Antarparagraf dalam Satu Bab
Penyampaian pesan antarparagraf yang berdekatan dalam satu subbab
mencerminkan keruntutan dan keterkaitan isi.
k. Kebertautan Antarparagraf dalam Satu Paragraf
Penyampaian pesan antarkalimat dalam satu paragraf mencerminkan
keruntutan dan keterkaitan isi.
Secara lebih spesifik karakteristik bahan ajar yang baik adalah sebagai berikut
di bawah ini:
1. Menimbulkan minat siswa untuk mempelajari bahan ajar.
Bahan ajar yang diususun perlu disusun semenarik mungkin sehingga
menimbulkan minat siswa untuk mempelajarinya.
2. Ditulis dan dirancang untuk siswa
Bahan ajar disusun atau dirancang untuk siswa. Namun demikian, bahan
ajar ini akan digunakan guru dan orang tua untuk membelajarkan siswa
3. Menjelaskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
Pada bagian awal bahan ajar perlu dijelaskan tujuan pembelajaran yang
akan dicapai berdasarkan kompetensi yang telah ditetapkan. Tujuannya
agar siswa, guru, dan orang tua mempunyai mengenai apa yang ingin di
capai dalam menggunakan bahan ajar tersebut.
4. Disusun berdasarkan pola belajar yang fleksibel
Pola yang sudah ditetapkan dalam bahan harus fleksibel sehingga siswa
mempunyai pilihan-pilihan sesuai dengan situasi dan kondisi siswa yang
beragam.
111
5. Struktur berdasarkan kebutuhan siswa dan kompetensi akhir yang akan
dicapai.
Struktur penyajian perlu memperhatikan kebutuhan dan kompetensi akhir
yang ingin dicapai. Siswa menjadi titik tolak dalam menentapkan struktur
bahan ajar.
6. Memberi kesempatan pada siswa untuk berlatih
Latihan-latihan yang disjaikan di dalam bahan ajar harus memberikan
kepada siswa untuk berlatih. Kesempatan ini dapat dijabarkan seperti
dengan menyajikan berbagai pertanyaan dengan berbagai variasi dan
jumlah yang cukup.
7. Mengakomodasi kesulitan siswa
Siswa yang menggunakan bahan ajar mempunyai kesulitan yang berbedabeda.
Untuk itu, bahan ajar perlu memperhatikan kesulitan siswa yang
beragam ini.
8. Memberikan rangkuman
Untuk memberikan kesempatan kepada siswa menyimpulkan mengenai
kompetensi yang ia pelajari, maka sebaiknya ada rangkuman yang
membantu siswa dalam mempelajari bahan ajar.
9. Gaya penulisan komunikatif dan semi formal
Bahasa dan gaya penulisan tidak kaku dan disesuaikan dengan tingkat
perkembangan siswa.
10. Kepadatan berdasar kebutuhan siswa
Penyusun bahan ajar perlu memperhatikan kompetensi yang akan dicapai
siswa sehingga kepadatan dapat diukur sesuai dengan kebutuhan siswa.
11. Mempunyai mekanisme untuk mengumpulkan umpan balik dari siswa
Guru perlu mendapatkan umpan balik dari kompetensi yang ia dipelajari
siswa sehingga ini dapat digunakan untuk perbaikan.pelajarai.
12. Menjelaskan cara mempelajari bahan ajar.
112
Pada bagian tertentu di bahan ajar perlu dijelaskan cara mempelajari bahan
ajar sehingga siswa, guru, dan orang tua dapat menggunakan bahan ajar
secara efektif dan efisien.
F. KELAYAKAN PENYAJIAN
a. Konsistensi Sistematika
Sistematika penyajian dalam setiap bab taat asas, minimal memuat peta
konsep, (tidak menyalin SK/KD), pendahuluan/apersepsi, isi yang memuat
materi Pendidikan Jasmani, Olaraga, dan Kesehatan lengkap dengan
penjelasan konsep dan latihan, serta penutup untuk setiap bab yang
memuat evaluasi, rangkuman, dan refleksi).
b. Keseimbangan Antarbab
Uraian materi Pendidikan Jasmani, Olaraga, dan Kesehatan antarbab
disusun secara proporsional (tercermin dari jumlah halaman secara relatif)
dengan mempertimbangkan muatan SK dan KD yang dipilih untuk setiap
bab.
c. Keruntutan Konsep
Penyajian kegiatan berbahasa dan berPendidikan Jasmani, Olaraga, dan
Kesehatan dimulai dari hal yang mudah ke hal yang lebih sukar, dari hal
yang sederhana ke hal yang lebih kompleks, dari hal yang dekat dengan
lingkungan siswa ke hal dengan lingkungan yang lebih luas.
d. Kesesuaian/Ketepatan Ilustrasi dengan Materi
Ilustrasi yang digunakan tepat, sesuai dengan materi Pendidikan Jasmani,
Olaraga, dan Kesehatan yang disajikan dalam bab bersangkutan.
113
e. Berpusat pada Siswa
Penyajian materi Pendidikan Jasmani, Olaraga, dan Kesehatan
menempatkan peserta didik sebagai subjek pembelajaran yang terlihat
pada tugas-tugas dan proyek, baik untuk dikerjakan secara mandiri,
kelompok maupun klasikal oleh peserta didik.
f. Ketergugahan Metakognisi Siswa
Penyajian materi dapat memotivasi peserta didik untuk berpikir lebih
dalam tentang apa, mengapa, dan bagaimana mempelajari materi pelajaran
dengan cara yang menyenangkan. Metakognisi akan lebih tergugah apabila
materi disajikan, misalnya, dalam bentuk pemecahan masalah.
g. Ketergugahan Siswa untuk Berpikir Kritis, Kreatif, dan Inovatif
melalui Metode Inkuiri Eksperimrn
Penyajian materi Pendidikan Jasmani, Olaraga, dan Kesehatan dapat
menggugah peserta didik untuk berpikir kritis, kreatif, dan inovatif,
termasuk melalui metode eksplorasi dan latihan.
h. Variasi Penyajian
Materi disajikan secara variatif sesuai dengan karakteristik materi tersebut
sehingga dalam proses pembelajaran dapat menarik perhatian peserta
didik.
G. KELENGKAPAN PENYAJIAN
a. Pengantar
Inti pengantar di awal buku adalah ucapan terima kasih, namun dapat
ditambah dengan tujuan penulisan, sistematika buku, kelebihan buku, cara
belajar yang dianjurkan, dan hal lain yang dianggap penting
diinformasikan kepada peserta didik/pemakai baik oleh penulis maupun
oleh penerbit.
114
b. Pendahuluan Bab
Pada awal setiap bab terdapat penjelasan tentang apa yang dipelajari pada
bab itu. Sebagai subjudul dapat digunakan kata pendahuluan, pengantar,
atau lainnya, tetapi kata-kata subjudul itu tidak harus ada, yang penting
penjelasannya.
c. Daftar Isi
Daftar isi memuat judul-judul bab, subbab, termasuk pengantar, daftar isi,
daftar pustaka, daftar indeks, dan lampiran.
d. Glosarium
Glosarium berisi istilah-istilah penting dalam teks dengan penjelasan arti
istilah tersebut, diurutkan secara alfabetis, dan disertai nomor-nomor
halaman tempat istilah itu terdapat dalam teks, dicantumkan pada lampiran
buku.
e. Daftar Pustaka
Semua rujukan yang digunakan tercantum dalam daftar pustaka secara
konsisten. Daftar pustaka diletakkan di bagian penutup buku dan disusun
secara alfabetis serta mengikuti tata cara penulisan daftar pustaka yang
lazim.
f. Identitas Tabel dan Gambar
Setiap tabel, gambar, dan lampiran diberi nomor, nama atau judul. Teks,
tabel, gambar, dan lampiran yang diambil dari sumber lain harus disertai
dengan rujukan. Judul tabel terletak di atas tabel terkait, sedangkan judul
gambar di bawah gambar terkait.
g. Rangkuman dan Refleksi
Rangkuman merupakan konsep kunci bab yang bersangkutan yang
dinyatakan dengan kalimat ringkas dan jelas yang memudahkan peserta
115
didik memahami keseluruhan isi bab. Refleksi memuat sikap dan perilaku
yang harus diteladani oleh peserta didik.
h. Evaluasi
Evaluasi digunakan untuk mengetahui pencapaian kompetensi sesuai
dengan SK/KD. Evaluasi yang disajikan di dalam buku tidak berbentuk
perintah, tetapi ajakan dan umpan baliknya. Daftar cek yang berisi konsepkonsep
kunci setiap bab dapat dimuat di sini agar peserta didik dapat
menilai/menaksir pencapaian materi bagi dirinya sendiri.
H. KERANGKA MODEL BAHAN AJAR PENDIDIKAN JASMANI,
OLARAGA, DAN KESEHATAN UNTUK SEKOLAH DASAR
Berikut ini adalah contoh sistematika model bahan ajar Pendidikan Jasmani,
Olaraga, dan Kesehatan yang disusun dalam bentuk modul untuk siswa. Contoh
sistematika bahan ajar ini dapat disesuaikan atau dikembangkan sesuai dengan
kebutuhan.
...... (judul bahan ajar) Judul dirumuskan dari kompetensi
dasar, tema(mengambil intisari,
kata kunci, ...)
Kemampuan yang ingin dicapai:
1. ...
2. ...
3. ...
Kemampuan yang ingin dicapai
dirumuskan dari kompetensi dasar
atau indikator yang ada di silabus
dan RPP
A. ..... (Sub judul 1) Sub judul merupakan uraian dari
judul atau judul kegiatan yang akan
dilakukan siswa, mungkin juga dari
rumusan KD (bisa juga diambil dari
langkah-langkah pembelajaran di
RPP)
1. .... (uraiain materi/perintah/kegiatan)
2. .... (uraian materi/perintah/kegiatan)
3. ...
Catatan untuk guru:
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan
siswa termasuk latihan.
Berisi petunjuk pelaksanaan tentang
kegiatan yang harus dilakukan guru
dalam membantu siswa
melaksanakan pembelajaran sesuai
dengan sub judul.
Daftar Pustaka
116
Daftar Pustaka
Standar Isi Pendidikan
http://specialed.abot.com/od/characterbuilding
Adisasmita Yusuf, Strategi Instruksional Pendidikan Jasmani dan Olahraga.
Jakarta: PPs IKIP Jakarta., 1997.
Atwi Suparman, Pengembangan Instruksional, Jakarta: Dikti, 1987.
Borg, Walter R. & Meredith D. Gall, education Research: an Introduction, New
York: Longman Inc. 1983.
Coker, Cheryl A., Motor Learning and Control for Practitioners, Mexico
:McGraw Hill, 2004.
Colwin Cecil M., Swimming into the 21th Century. Champaign : Human Kinetics
Publishers, Inc., 1992.
Cook Anne Shumway- & Woollacott Marjorie H. “Motor Control” Theory and
Practical Applications. USA: Second EditionWalnut Street Philadelphia
Pennsylvania. ,2001.
David Kirck., McDonald Doune., O’Sullivan Mary (2006), The Hand Book
Physical Education. London SAGE Publication.
Davis Bob. et al. (1997). Physical Education and the study of sport. London:
Mosby, an imprint of Times Mirror International Publisher Ltd.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Petunjuk Teknis Pendidikan Jasmani ,
Jakarta: Depdikbud, 1995.
Gallahue, David L., Understanding Motor Development Infants, Children,
Adolescents, Adults, New York: McGraw Hill.
117

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar